Selamat Dies ke-64 Fakultas Kedokteran Unhas: From Digital to Humanism, Pendulum Utama Unhas Humaniversity

Digital, sebuah kata yang sejatinya berhubungan dengan angka dan lekat dengan asumsi penomoran. Sangat mudah melafalkan identitas langsung dari kata ini. Namun bicara makna, kata ini punya jangkauan yang tak sederhana. Secara tekstual akan dengan gampang dipahami, diceritakan dengan fasih bahkan dengan cepat dapat dicontohkan lewat teknologi. Tapi secara kontekstual meremehkan kata ini bisa memberi “kejutan’ yang tak sedikit. Tengoklah kehidupan dan peradaban manusia beberapa tahun terakhir, “kekagetan teknologi” menghampiri dan menembus sekat pembatas life style manusia hingga tak terasa larut didalamnya serta menikmati dengan ikhlas dan tanpa sadar telah menjadi pengguna yang addicted.

Data adalah kunci mendorong digitalisasi. Data adalah rangkuman atas catatan dari fakta. Data dapat menjadi deskripsi yang secara jelas dan tepat dipahami jika diolah dengan metode yang ilmiah. Tanpa itu, data menjadi sekedar ada tapi tak punya signifikansi makna di luar keberadaannya. Data dengan mudah dapat dimunculkan, disertai tampilan dalam berbagai bentuk namun apakah bisa dimanfaatkan atau tidak itu menjadi cerita lain. Data yang kian penting itu kini harus menghadapi dimensi lain. Diperlukan upaya belajar yang baru terkait: internet of things, artificial intelligence, new material, big data, robotic, augmented reality, cloud computing, additive manufacturing 3D printing, nanotech & amp; biotechology, generic editing dan coding.

Generasi keempat revolusi industri yang akrab di telinga kita bernama RI 4.0 kian membumikan proses ini. Tak ada sektor yang secara lantang berani mengatakan tidak dipengaruhi oleh digitalisasi. Segala aspek dan aktivitas manusia seperti sedang bertanding lari sprint untuk menjadi terdepan dalam bicara tentang perubahan perdaban ini. Siapa yang bisa menahan dan mengacuhkan teknologi? Teknologi dihadirkan dan disandingkan dengan kebutuhan adalah polah yang tak bisa diredam. Teknologi seringkali hadir melewati batas kesiapan kita. Dari sekedar sebagai pengguna internet, lalu follower teknologi cerdas secara konsisten, hingga kemudian larut mengubah dunia dan pola hidup kita secara sistematis.

Tentu tak hanya bicara teknologinya saja, dunia digital telah dengan sukses memaksa kita menyerahkan nasib pada perkembangan informasi dan data. Laju yang cepat dengan tidak lagi mengenali sekat-sekat wilayah tentu saja membawa perubahan positif pada capaian efisiensi yang lebih tinggi. Namun jangan lupa selalu ada sisi buruk dari bentuk apapun yang diciptakan. Pilihan ada di ujung jari dan pikiran penggunanya.

Larutnya kita dalam riuh-rendahnya teknologi digital tentu saja bukan sebuah kesalahan. Adalah sebuah keniscayaan jika kita hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus kemajuan. Menjadi penikmat dengan hanya sebagai pemain seluncur di era ini juga sangat tanggung. Mengambil peran dan kontribusi tentunya adalah jalan terbaik. Dalam bentuk apa? Jawabannya dalam banyak hal. Seringkali kita melupakan bahwa yang menjalankan semua ini adalah mahluk bernama manusia. Bicara manusia pastinya kita merujuk pada banyak ruang dinamis yang tersisa. So, di era serba lebih cepat dan lebih nyaman ini jangan pernah melupakan domain “kemanusiaan”

Terkait:  Universitas Hasanuddin Gelar Pembekalan KKN Gelombang 108 bagi 3709 Mahasiswa

Data, teknologi dan kemanusiaan adalah literasi baru yang tak sekedar sebuah jargon. Keterkaitan tiga kata itu menjadi sebuah ramuan untuk menghasilkan sumber daya unggul dengan daya adaptasi yang tinggi. Siapkah kita merangkai literasi itu? Bisakah kampus menjadi interkoneksi yang menjadi penghubung tiga sisi itu? Ya, saya mengajak untuk lebih mengenal dengan salah satu unit kerja di Unhas yang diyakini mampu dan terdepan dalam merangkai itu, Fakultas Kedokteran.

Jejak ilmu kedokteran di Unhas dimulai dengan keinginan masyarakat Kota Makassar memiliki institusi yang mengajarkan dunia kesehatan. Pilihan utamanya adalah mempunyai lembaga pendidikan dokter. Hasrat masyarakat itu disalurkan dengan “Gentlement Agreement“ antara pihak Kementerian P dan K dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading tentang pendirian sebuah Universitas Negeri di Makassar. Kesepakatan ini ditindaklanjuti dalam rapat Dewan Menteri tanggal 22 Oktober 1953 yang membentuk Panitia Persiapan Fakultas Kedokteran. Panitia ini diketuai oleh Syamsuddin Dg Mangawing, Muhammad Rasyid Dg Sirua sebagai sekretaris dan J.E. Tatengkeng, Andi Patiwiri serta Sampara Dg Lili sebagai anggota.

Dukungan Gubernur Sulawesi Andi Pangerang Pettarani dan Walikota Besar Makassar Ahmad Dara Syahruddin sungguh besar. Dengan dana dan lahan yang disediakan seluas 50 hektar yang sebagian besar adalah tanah rawa di kawasan Baraya, dibangunlah gedung Fakultas Kedokteran yang dirancang khusus oleh Ir. J. Th. Dhroof. Milestone itu akhirnya ditancapkan pada tanggal 28 Januari 1956 dengan diresmikannya Fakultas Kedokteran Makassar oleh Prof. Ir. R Soewandi, Menteri P dan K saat itu.

Peresmian Universitas Hasanuddin oleh Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta pada tanggal 10 September 1956 menjadikan Fakultas Kedokteran Makassar bergabung dalam rumah besar Unhas dan menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Perubahan ini dilakukan untuk memenuhi syarat pendirian Universitas saat itu yaitu adanya minimal satu fakultas eksakta dan dua fakultas non eksakta. Sehingga Fakultas Kedokteran Makassar menjadi fakultas ketiga setelah Fakultas Ekonomi dan Fakultas Hukum yang telah lebih dulu hadir.

32 tahun menghuni kampus di Baraya, Fakultas Kedokteran secara resmi pindah ke kampus baru Tamalanrea, tepatnya di tahun 1988. Kebutuhan akan sarana dan prasarana pendukung proses pendidikan adalah alasan utama hijrah. Pendidikan klinik harus ditopang oleh Rumah Sakit. Sejalan dengan itu Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo (RSWS) dibangun dan mulai difungsikan tahun 1993 dengan status Rumah Sakit kelas A. Pada tahun 2010 Unhas juga telah memiliki Rumah Sakit sendiri dengan nama kini RSPTN Unhas.

FK kini mengasuh 6 program. Pendidikan Dokter, Pendidikan Profesi Dokter, Pendidikan Dokter Spesialis dan Pendidikan Doktor. Program Pendidikan Dokter Spesialis sendiri memiliki 20 kekhususan prodi spesialis. Selain itu FK diminta membina 2 prodi diluar pendidikan dokter yaitu: Psikologi dan Pendidikan Dokter Hewan.

Bicara akreditasi prodi, FK adalah tempat belajar tepat untuk memperbaiki proses dan kualitas. Lewat usaha yang tidak ringan, capaian akreditasi nasional nyaris paripurna dan tentu saja sangat membanggakan. Prodi S1, Profesi dan Prodi S3 terakreditasi “A” LAMPT-Kes. Demikian halnya dengan prodi spesialis yang sejak 2 tahun terakhir berjibaku dengan proses akreditasi, 14 dari 20 prodi spesialis mengantongi akreditasi “A” LAMPT-Kes. Di level internasional, Prodi S1 Pendidikan Dokter telah mendapatkan akreditasi internasionalnya lewat AUN-QA. Kinerja dan prestasi yang tentunya tak mudah dibangun dalam sekejap waktu.

Terkait:  SDGs Center Unhas dan The Conversation Selenggarakan Workshop Kepenulisan Artikel Media Massa

Fakultas ini menjadi salah satu unit kerja dengan kualitas SDM kelas tinggi. Fakultas ini diasuh 203 dosen tetap aktif yang terbagi pada 29 departemen. Sekira 56 % diantaranya bergelar Doktor tamatan dalam dan luar negeri. Memiliki 30 professor aktif dengan keahlian yang beragam. Modal yang terbilang sangat besar untuk menghasilkan tenaga kesehatan pilihan.

Karya luar biasa itu adalah persembahan sivitas akademika Fakultas Kedokteran, dan pastinya tidak lepas dari tangan dingin Sang Dekan, Prof. dr. Budu, M.Med.Ed., PhD., Sp. M(K). Tipikal manusia yang murah senyum, dokter mata yang pekerja keras dan tak banyak bicara sesuai dengan namanya yang singkat. Penyuka berbagai macam olahraga terlebih yang menggunakan raket ini juga dikenal sombere’. Mungkin karena berlatar belakang dokter mata hingga kemudian sifatnya menyukai hal yang detil.

Tentu saja apa yang dicapainya juga hasil kerja para Dekan, pimpinan dan sivitas akademika sebelumnya. Kita patut mengapresiasi para dekan pada masanya masing-masing yang tentunya punya kontribusi yang sama besarnya dalam membangun dan menegakkan panji kebesaran FK dari dulu hingga kini. FK besar dan berprestasi karena mereka semua. Kita yakin mereka semua akan sangat bersuka hati dan lega telah mengantar FK hingga kini dan mendidik dokter-dokter andalan yang telah menjelajah di seantero nusantara dan melanglang buana hingga ke manca negara. Sebuah prestasi lahir dari perjalanan panjang dan secara konsisten diperjuangkan.

Satu fakta yang tak terbantahkan bahwa nama FK menjadi populer dan disegani karena kiprah para alumninya. Tak terhitung alumninya yang telah berprestasi di bidangnya masing-masing. Kalau menyebut nama pejabat setingkat Menteri, Gubernur, Walikota dan Bupati atau anggota legislative, eselon level atas, tak sulit mencari bahwa mereka pernah “menghabiskan waktu” di tanah tak jemu Tamalanrea ataupun Baraya. Bahkan kini memiliki alumni terbaik yang berkiprah sebagai Menteri Besar di negeri serumpun di Tanah Johor.

28 Januari 2020, Fakultas Kedokteran Unhas berusia 64 tahun. Puncak perayaannya telah dilakukan Minggu (26/01). Umur yang sesungguhnya telah berada pada kategori matang. Namun sumbangsih pada pengetahuan dan kemanusiaan tak pernah mengenal umur. Tekad menjadi pusat pendidikan kedokteran yang berwawasan global, berjiwa maritim dan berorientasi masyarakat adalah cita-cita mulai yang tak pernah padam.

Selamat Dies Natalis ke-64 FK Unhas. Kualitas dan relevansi adalah tujuan utama kehadiranmu. Daya saing bangsa dan reaktualisasi nilai-nilai budaya bahari jangan terlupakan. Membangun SDM unggul dengan label 7-star doctor di era smart society telah menunggu. From Digital to Humanism adalah bakti nyata komitmenmu untuk pasien dengan tetap menjaga dan menghormati sejawat. Salah satu bandul utama Unhas mewujudkan Humaniversity.

#Unhas
#Communiversity
#Humaniversity
#CatchWCU

Leave a Reply

Kabar Fakultas

Kerja Sama

Berita Mahasiswa