Selamat Dies ke-24 Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas: Mendorong Riset Kolaboratif ke Ekosistem Industri, Mendukung Unhas Humaniversit

Inovasi, kata yang sangat familiar diperbincangkan pada berbagai kesempatan dan momentum. Tak mengenal lapisan strata masyarakat, dari pemilik kepercayaan tertinggi pilihan rakyat hingga kepada pemilik sah ruangan paling vital disebuah keluarga sangat fasih menyebut kata ini. Keseharian kita lekat dengan proses ini walaupun kadang tak kita sadari. Naluri kita mencoba sesuatu yang lebih baru entah terkait dengan gaya hidup maupun sekedar memenuhi kebutuhan dasar sebagai mahluk yang berakal membawa alam sadar kita untuk terus melakukan proses dan menjadi bagian darinya.

Dan kenyataannya, inovasi memang tak susah untuk diberi tafsiran. Mengacu ke berbagai sumber, inovasi berhubungan dengan penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya. Intinya sederhana yaitu “pembaharuan” entah dari gagasan, metode atau alat. Tapi jangan berhenti sampai disitu saja tentunya. Sebagai sebuah proses, dia mutlak punya rangkaian yang berjalan. Mungkin saja rangkaian itu tak pernah terbayang sebelumnya karena percobaan atau apapun namanya seringkali memang diawali dengan coba-coba semata. Dari berbagai referensi, hasil sebuah inovasi bisa mengantar manusia menikmati sejauh mata memandang, membawa kekagetan yang lebih tinggi, dan tentu saja secara signifikan mengalirkan peradaban baru.

Dari inovasi kita berharap banyak akan mendorong laju produktifitas. Inovasi teknologi yang lahir dan disemai melalui riset, dikembangkan dengan metode perekayasaan yang terukur diyakini adalah awal pemicu produktivitas dan daya saing industri nasional dengan nilai tambah produk yang semakin “mature”. Nilai tambah pada setiap rantai produksi menjadi pembeda revolusi industri 4.0 dengan sebelumnya. Jangan kaget jika kemudian rantai produksi yang tidak menghasilkan nilai tambah dengan cepat akan hilang. Kalau tak mau jadi penonton dan ingin turut bagian dalam mengambil keuntungan di era ini, yakinkan diri kita bahwa inovasi dan produktifitas adalah padanan yang mesti punya perlakuan dan kedudukan khusus untuk diperhatikan,

Efisiensi adalah hal lain yang akan menjadi dampak langsung dari inovasi. Keterbiasaan memiliki keinginan melakukan perubahan adalah setengah langkah proses inovasi. Tidak yakin akan kesempurnaan sehingga dengan senang hati memperbaiki metode maupun teknologi adalah penerang jalan inovasi. Proses berulang namun konsisten diperbaiki dan dibuat semakin mendekati sempurna pada ujung jalan yang terang itu akan melahirkan sebuah dimensi baru bernama budaya. Jikalau inovasi sudah jadi budaya maka efisiensi akan menjadi follower setianya.

Selanjutnya apa yang penting selalu digaungkan untuk membangun budaya inovasi? Tak banyak yang mesti disebutkan. Setidaknya ada dua hal yang sekiranya cukup untuk menjadi modal utama. Pertama, kita mesti “kreatif”. Kreatif identik dengan kebiasaan, bukan sebuah bakat. Lazimya sebuah kebiasaan, ia bisa dilatih. Dari latihan menjadi terbiasa, kreatifitas yang dibiasakan pada titik tertentu akan memuculkan pengembangan. Dan hasilnya, pengembangan akan menuntun jalan lapang menuju inovasi. Kedua, jiwa entrepenuer. Inovasi menjadi barang berwujud jika dikelola dengan entrepreneur yang baik. Dalam buku “Corporate Entrepreneurship” sang penulis Hisrich dan Kearney menegaskan: inovasi dan kreativitas adalah eleman utama dalam corporate entrepreneurship. Kreativitas adalah basis dari pengembangan inovasi dalam bisnis, serta inovasi disisi lain merangkai perannya menjadi kunci utama proses entrepreneurial sebuah perusahaan.

Terkait:  Penyegaran Dosen Pengampu Kuliah Kerja Nyata Angkatan ke-2 Universitas Hasanuddin

Global Innovation Index 2019 menyebutkan bahwa Indonesia adalah peringkat 85 dari 129 negara paling inovatif di seluruh dunia. Referensi ini tentu saja tidak terlalu baik untuk bangsa ini yang sejatinya punya sumber daya yang melimpah. Tentu saja kampus tetap menjadi pilar utama untuk meningkatakan capaian tersebut dimasa kini dan akan datang. Ya, saya mengajak untuk lebih mengenal dengan salah satu unit kerja di Unhas yang punya reputasi sangat baik dalam hal inovasi yaitu Fakultas Ilmu Keluatan dan Perikanan.

Posisi yang strategis dengan dukungan sektor kelautan dan perikanan sebagai daya ungkit perekonomian dan kesejahteraan membuat wilayah Indonesia ini punya nilai jual yang tidak kecil. Kawasan Timur Indonesia ini dilengkapi gugusan pulau-pulau, menyimpan kekayaan perairan laut dengan biodiversity laut yang tinggi, serta kultur kebaharian yang mendarahdaging dimasyarakatnya.

Unhas sebagai gerbang peradaban di kawasan ini sadar punya tanggung jawab yang tidak ringan menyiapkan sumber daya handal di bidang keluatan dan perikanan. Program Studi Perikanan mulai di buka di Fakultas Pertanian sejak tahun 1968. Unhas secara institusi lebih menggaungkan peran strategis itu dengan menetapkan Pengembangan Ilmu Kelautan sebagai Pola Ilmiah Pokok (PIP) di tahun 1975. Mempertajam PIP ini, Program Studi Ilmu Kelautan akhirnya diluncurkan pada tahun 1988.

Penanda sejarah memasuki episode baru. Integrasi Jurusan Ilmu Kelautan dan Jurusan Perikanan disepakati. Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.036/0/1996 adalah dasar yang sahih atas babak baru itu. SK tertanggal 29 Januari 1996 itu tak lain adalah Pembentukan Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan dengan akronim FIKP. Milestone ini menjadikan FIKP sebagai fakultas ke-12 di Unhas.

Kini FIKP jauh berbeda. Mengasuh 8 program studi dari jenjang strata 1 hingga strata 3. Di level sarjana membina 5 prodi yaitu: Pemanfaatan Sumber Daya Perikanan, Sosial Ekonomi Perikanan, Budi Daya Perairan, Manajemen Sumber Daya Perairan dan Ilmu Keluatan. Pada program magister mengelola 2 prodi yaitu: Ilmu Perikanan dan Pengelolaan Sumber Daya Pesisir Terpadu. Selain itu FKIP menjalankan 1 prodi S3 yaitu Ilmu Perikanan.

Mengelola prodi dengan baik dengan menggunakan kriteria akreditasi, FIKP adalah salah satu jawaranya. FIKP merupakan lokasi mumpuni untuk belajar mempertahankan kualitas sembari terus memperbaiki proses. Usaha yang konsisten disertai tekad yang yang tak pernah surut menjadikan capaian akreditasi nasional FIKP sangat membanggakan. Semua Prodi S1 (ada 5) sapu bersih terakreditasi “A” BAN-PT. Untuk Prodi S2, salah satu dari dua prodi yang dimilki juga sudah mengantongi akreditasi A (satunya ‘B’). Sedangkan Prodi S3 yang masih baru itu sangat dipahami jika masih akreditasi B. Secara prosentase 6/8 alias 75% terakreditasi unggul. Di level internasional, Prodi S1 Ilmu Kelautan telah mendapatkan akreditasi internasionalnya lewat AUN-QA. Sedangkan S1 Budi Daya Perairan memperolehnya dari ASIIN. 1 prodi sedang bersiap mengikuti akreditasi AUN-QA tahun 2020 ini yaitu Manajemen Sumber Daya Perairan.

Terkait:  Persiapan Pembukaan Prodi, Universitas Pattimura Ambon Studi Banding di Unhas

Unit kerja yang dibekali SDM dengan kualifikasi papan atas. Diasuh 113 dosen tetap aktif pada 2 departemen. Sekira 81 % (presentase tertinggi di Unhas) diantaranya bergelar Doktor tamatan dalam dan luar negeri. Memiliki 25 professor aktif dengan keahlian yang beragam. Modal yang sangat melimpah untuk menyipakan SDM pilihan dalam mengelola sumber daya perairan dan kelautan Indonesia yang sangat luas itu.

Capaian penting dengan karya yang istimewa itu adalah kerja bersama sivitas akademika FKIP, dan tentunya tidak lepas dari tangan lembut Sang Dekan, Dr. Ir. St. Aisjah Farhum, MSi. Meski kelihatan nyata sifat keibuannya, dengan senyumnya yang khas, tipikal wanita pekerja keras tanpa banyak bicara dan menonjolkan diri tapi jangan salah sangka dia bisa jadi sangat tegas. Penyuka wisata kuliner ini ini juga dikenal sangat perhatian kepada stafnya. Mandiri dan detil adalah sifatnya yang bisa dilihat secara kasat mata.

Apa yang dicapai hingga kini adalah juga hasil kerja para Dekan, pimpinan dan sivitas akademika sebelumnya. Apresiasi patut kita sampaikan dengan hormat kepada para dekan pada masanya masing-masing yang tentunya punya catatan manis dengan sumbangsih dan kontribusi yang sama pentingnya untuk mengelola aset berharga Unhas ini. FKIP terkenal dengan prestasi dan kolaborasi penelitiannya yang mengglobal karena mereka semua. Konsistensi perjuangan dan perjalanan yang panjang memunculkan prestasi yang tak sedikit.

FKIP juga populer dan diakui keberadaannya salah satunya karena kiprah para alumninya. Banyak tercatat alumni fakultas ini memiliki sumbangan besar bagi pembangunan dan pengembangan kelautan dan perikanan Indonesia. Tentu saja tak harus jadi pejabat untuk berkontribusi, lewat berbagai organisasi profesi kiprah itu tetap kelihatan nyata adanya.

29 Januari 2020, FIKP Unhas berusia 24 tahun. Umur yang telah berada pada kategori menjadi dewasa. Namun sumbangsih pada pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat tak pernah mengenal usia. Tekad menjadi pusat rujukan pengembangan pengelolaan sumber daya pesisir dan laut adalah visi yang tak pernah surut.

Selamat Dies Natalis ke-24 FIKP Unhas. Kualitas dan relevansi adalah tujuan utama kehadiranmu. Daya saing bangsa dan reaktualisasi nilai-nilai budaya bahari jangan terlupakan. “Jangan pernah memunggungi laut” adalah bakti nyata komitmenmu untuk negara kepulauan terbesar ini. Salah satu teras utama Unhas mewujudkan Humaniversity.

#Unhas
#Communiversity
#Humaniversity
#CatchWCU

Leave a Reply

Kabar Fakultas

Kerja Sama

Berita Mahasiswa