Selamat Dies Ke-13 Fakultas Kehutanan Unhas: Mengelola Ekosistem Hutan, Mendukung Unhas Humaniversity

Keberlanjutan, sebuah kata benda yang diturunkan dari bahasa asing atawa mengalami proses penyesuaian dalam kosakata kita. Makna kata ini ada pada dua tekstual yaitu kemampuan dan berlanjut. Jika dirangkai dalam sebuah barisan kata, dia memilki arti yang kira-kira seperti ini: kemampuan untuk dipertahankan pada tingkat tertentu. Mudah mengucapkan secara baik dan cepat namun bicara pada konteks yang sesungguhnya bisa jadi masih perlu membaca ulang riwayat sebenarnya. Menggapainya perlu upaya, menggenggamnya butuh usaha, menariknya harus bersama dan memilikinya mesti disertai komitmen yang tidak mudah. Memahami bahwa ada sesuatu yang bisa saja “lenyap” pada saatnya dan tak mudah mengembalikannya dalam rentang waktu yang pendek. Selalu meyakini bahwa anugerah itu ada batas yang tak mungkin lagi diperpanjang menjadi peta dasar menuju ke sana.

Isu keberlanjutan bukan lagi barang baru. Cakupannya melebar ke segala aspek, mendalam ke seluruh ruang interaksi, mendetail ke setiap bidang ilmu. Tak lagi ‘milik tunggal’ para pendekar ilmu namun jadi bahasa awam yang sedang mengalami lonjakan ‘pengunjung’ di wilaya nyata dan maya. Tak sukar menemukannya di dunia nyata bagaimana isu ini dibahas mulai dari ruang kelas yang sempit hingga ke ruang ‘ballroom’ yang lapang. Menjadi atensi para pengambil kebijakan akan pentinganya menjaga isu ini agar terus menggelora ke publik. Di wilayah daring apalagi, ‘tanda pagar’ keberlanjutan sangat gampang didapatkan dengan memainkan jari-jari kita berselancar mencari arti dan tindaklanjutnya. Tinggal dibutuhkan ‘filter’ yang biak untuk memperoleh catatan dan peristiwa yang layak dipercaya dan tak menghabiskan waktu mencari yang tak penting.

Keberlanjutan sejatinya mengajak kita bicara sistem. Dari referensi manapun kita sitasi alias kutip, tak ada yang bicara tergantung pada aktor. Dalam pandangan ekologi sebagai contoh, dia berwujud sistem biologis yang tetap mampu mengelola keanekaragaman hayati dan produktivitas secara tanpa batas. Pada konteks yang lebih luas, keberlanjutan adalah daya tahan suatu sistem dan proses. Sebagai proses, ibaratnya sebuah cita-cita, tak terbatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Dengan upaya yang berlangsung konsisten ditemani pendekatan yang dinamis, sistem itu bisa lahir dari proses yang ada. Selain itu, keberlanjutan juga bicara tantangan sosial hingga mencari keseimbangan. Sifatnya yang tidak stagnan dan kemudian harus memandang dirinya dalam kesatuan alias holistik, berjalan sementara menuju titik akhir dan mengulanginya lagi adalah ciri unik sistemnya.

Memadupadankan keberlanjutan dengan kata lain menjadi nilai jual tinggi, setidaknya sejak isu millennium development goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan Milenium (TPM) yang diteken oleh 189 negara di Markas PBB tahun 2000. Di tahun 2015 agenda pembangunan berubah nama dan konten sebagai sustainable development goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB). Tujuannya jelas sebagai aksi nyata kepemimpinan dunia pada tiga isu utama yang harus diatasi: kemiskinan, kesenjangan dan perubahan iklim. Berisikan 17 tujuan sebagai tuntunan kebijakan dan pendanaan untuk 15 tahun hingga 2030 itu. Gaung keberlanjutan menjadi konsumsi publik yang menembus ruang dan waktu hingga ke akar rumput, berwujud istilah yang tak lagi domain masyarakat cendekia saja.

Menjahit isu keberlanjutan dengan konteks revolusi industri 4.0 jelas sesuatu yang tak saling membenci. Keduanya komplementer mencapai tujuan dengan sistem supporting yang bersifat simbiosis mutualisme. Rasanya mencapai 17 tujuan itu tanpa dukungan sistem yang melekat pada RI 4.0 adalah mustahil. Mencapai tujuan tentu saja membutuhkan katalisator yang mumpuni. Tak cukup dengan modal keberhasilan masa lalu dan selanjutnya berada pad zona nyaman bahwa segalnay akan berjalan sesuai kehendak. Disrupsi akan tiba pada waktunya, tak mengenal kita siap atau tidak. Yang dibutuhkan adalah penyesuaian tanpa melupakan tahap yang tak pernah berakhir, yang terus berkelanjutan secara sistem, merespon sesuatu ibarat mengulang proses iterasi.

Terkait:  Unhas dan Pemkab Pohuwato Sepakat Kerja Sama Pengembangan Tridarma

Ilmu Kehutanan tentunya juga tak bisa jauh dari itu. Rangkaian target telah ditetapkan. Tiga dimensi pembangunan berkelanjutan erat dan dekat dengan disiplin ilmu ini. Dimensi pertama yaitu lingkungan pasti akan bicara banyak tentang kehutanan. Hutan jelas adalah subyek sekaligus obyek penting untuk hal tersebut. Sebagai contoh, smart nursery. Memungkinkan dikerjakan berbasis digital, kebutuhan air dan waktu siram hingga jumlah unsur hara bisa diatur dengan teknologi. Apatah lagi kalo bicara citra satelit, rasanya mengelola hutan tanpa dukungan IT adalah pekerjaan menghabiskan waktu banyak. Termasuk monitor satwa di dalamnya, tanpa basis digital semisal drone, sensor thermal dan kawan-kawannya, memerlukan tenaga yang tak sedikit.

Memahami keberlanjutan dan memaknai arti pentingnya, tak mungkin menjadi wilayah ilmu tertentu. Ilmu lahir untuk saling menopang. Selalu ada ruang dan kesempatan bagi yang lain untuk hadir dan saling mendukung. Pohon punya cerita yang berbeda sejak pembibitan hingga memberi manfaat untuk sebauah kehidupan. Tidak cukup dengan menanamnya selanjutnya kita tinggalkan dan membiarkannya hidup tanpa perawatan.

Menjejakkan kaki dan langkah di Kampus Unhas Tamalanrea entah dihari yang penuh dengan aktifitas akademik ataupun disuasana akhir pekan, ada rasa yang cukup berbeda dari titik kita berangkat sebelumnya. Ibarat menemukan ‘serpihan’ dunia lain, ditengah panas dan macetnya kini kota Makassar, masih ada teritori yang bisa membuat mata, hati dan tubuh lain kita menikmati segarnya ciptaan yang Maha Kuasa. Ruang terbuka hijau dengan ribuan pepohonan berlomba memberi fungsi sebagai hutan kota. Dibalik kenyamanan itu, tentu banyak pihak yang mendedikasikan pengetahuannya dalam mewujudkan apa yang kini telah dan akan kita rasakan di tanah “tak jemu” itu.

Hari ini, mari kita bicara salah satu dari mereka, Fakultas Kehutanan (Fahutan) Unhas. Hadir pertama kali di Unhas sebagai bagian dari Fakultas Pertanian sejak tahun 1963. Lahir atas dukungan dari Fakultas Pertanian UI (kini dikenal sebagai IPB), atas prakarsa Ir. Fachruddin. Difasilitasi oleh Dinas Kehutanan Sulsel dengan menugaskan Ir. W.H. Hutadjulu sebagai Ketua Jurusan pertama saat itu. Dengan semangat yang luar biasa mengelola perkuliahan dengan status “menumpang” di berbagai tempat milik pemerintah serta masih harus berjuang ke Bogor menyelesaikan pendidikan sarjana hingga kemudian memiliki “produk” asli sebagai alumni di tahun 1968.

Meyakini bahwa upaya pengembangan ilmu kehutanan harus diangkat ke level yang lebih besar, niat menjadi fakultas tersendiri mulai dibangun. Asa bersambung ikhtiar bertaut, Unhas mendukung penuh “perjuangan” itu. Sebagai gerbang peradaban melalui jalur pendidikan, Unhas sadar punya tanggung jawab yang tidak sedikit dalam menjaga, memelihara dan menatausahakan kekayaan forest biodiversity Indonesia. Tentu tak mudah dan tak bisa segera, ada proses dan aturan serta kebijaksanaan yang harus terus disempurnakan dalam menggapai impian.

Penanda sejarah akhirnya tiba juga. Surat Keputusan Dirjen Dikti No.483/D/T/2006 adalah kabar berita valid atas babak baru itu. SK tertanggal 18 Desember 2006 tentang Persetujuan Pengembangan Jurusan Kehutanan menjadi Fakultas Kehutanan itu layaknya sebuah cahaya yang muncul di ujung petualangan survival di hutan sebagaimana dalam film-film Hollywood atau sejenisnya. Surat Keputusan Rektor No. 440/H4/2007 Tanggal 14 Maret 2007 tentang Pembentukan Fakultas Kehutanan adalah akhir sekaligus awal dari sebuah petualangan lanjutan. Tonggak waktu ini menjadikan Fakultas Kehutanan sebagai fakultas ke-13 di Unhas.

Fahutan kini berkembang pesat seperti anak panah lepas dari busurnya. Saat ini mengasuh 3 program studi yaitu: S-1 Kehutanan, S-2 Ilmu Kehutanan dan S-3 Ilmu Kehutanan. Sedang dalam proses membuka prodi baru di level sarjana yaitu S-1 Rekayasa Kehutanan.

Terkait:  Unhas dan Ditjen Perkebunan Kolaborasi Tingkatkan Produksi dan Nilai Tambah Sagu

Memperbaiki proses dan kualitas secara simultan, Fahutan adalah salah satu juaranya. Akreditasi sebagai tolak ukur utama kualitas pendidikannya meraih pretasi yang nyaris paripurna. Capaian akreditasi nasional dari BAN-PT tercatat manis. Prodi S-1 Kehutanan dan S-2 Ilmu Kehuatan telah memperoleh Akreditasi A untuk 2 kali akreditasi terakhir. Menyisakan S-3 Ilmu Kehutanan sebagai prodi baru yang tak lama lagi aakan diakreditasi untuk pertama kalinya.

Di level internasional, Prodi S-1 Kehutanan telah mendapatkan pengakuan akreditasi internasionalnya lewat AUN-QA. Meski sepanjang pendiriannya hingga kini baru dipimpin oleh 2 orang yang pernah menjabat dekan, tapi pengakuan akan kinerja akademik dan non-akademiknya diakui di level internasional. Selain itu Fahutan punya catatan sangat baik untuk jurnal internasional. Pertama di Indonesia Timur memiliki jurnal internasional yang terindekasasi di Scopus. Ini tentu saja bukan hal yang gampang dicapai. Butuh konsistensi semangat disertai komitmen tak berujung untuk menggapainya.

Tak kalah mentereng kiprah SDM Fahutan. Punya 41 dosen dengan 34 diantaranya adalah doktor, serta punya 11 mahaguru bergelar Professor dengan proporsi yang termasuk tinggi di Unhas. Tentu salah satu diantaranya sangat dikenal di jazirah selatan pulau berbentuk huruf “K” tempat Unhas ini berada. Ya, siapa lagi kalau bukan sang “Professor Andalan”. Selain itu, Pemilik Hutan Bengo-Bengo ini pun banyak bermitra dengan peneliti asing serta instansi dalam dan luar negeri.

Capaian istimewa dengan kinerja yang luar biasa itu adalah kerja kolektif persembahan sivitas akademika FH, dan pastinya tidak lepas peran vital Sang Dekan, Prof. Yusran. Namanya memang singkat tapi jangan tanya langkahnya. Tipikal dekan yang tak banyak dimeja kerja dan lebih senang turun lapangan. Pakar kebijakan kehutanan dan lingkungan ini selalu murah senyum pada koleganya. Jejaring yang dibangunnya sangat beragam. Penggemar olahraga yang mulai tak konsisten menyalurkan hobbinya karena terbatasnya waktu. Mantan aktivis mahasiswa pada jamannya menjadi bekal utamanya. Alumni Lemhanas yang piawai dengan aspek kebijakan ini. Kini diberi kepercayaan mengemban amanah lebih luas sebagai Ketua Bappelitbangda Sulsel. Selalu tampil lebih santai dalam kesehariannya. Semoga jabatan barunya tak membuatnya jadi lebih ‘senior’ dari umur sebenarnya….. hehehe.

Tentu saja apa yang dicapainya juga hasil kerja Dekan, pimpinan dan sivitas akademika Fahutan sebelumnya. Kita harus memberikan apresiasi pada Prof. Restu yang mengemudikan Fahutan dengan keterbatasan sarana hingga kemudian menjadi luar biasa saat ini. Prof. Yusran dan Prof Restu serta pimpinan Fahutan lainnya punya kontribusi yang berbeda namun sama pentingnya untuk kemajuan Fahutan. Tentu mereka semua dengan lapang hati penuh kelegaan mengantar Fahutan menetaskan rimbawan terbaik untuk negeri ini dan dunia. Pencapaian yang tak mudah tanpa totalitas berbuat dengan porsi yang dimiliki.

Demikian halnya dengan alumninya. Forester alumni Unhas berkiprah dibanyak tempat di seluruh nusantara hingga ke manca negara. Dari pelosok hutan daerah 3T hingga blok bangunan mewah di pusat kekuasaan. Kita berharap banyak pada mereka untuk menjaga kekayaan biodiversity Indonesia yang tak mendua di dunia.

14 Maret 2020, Fakultas Kehutanan Unhas berusia 13 tahun. Tentu umur yang masih sangat muda untuk sebuah ukuran fakultas. Tapi usia terkadang hanya sebuah deretan angka, tidak menandakan apa-apa kecuali yang punya umur yang mengisinya. Sumbangsih pada pengetahuan dan kemanusiaan tetap harus dilakoni hingga kapanpun tanpa harus berbatas umur dan bersekat usia.

Selamat Dies Natalis ke-13 Fakultas Kehutanan Unhas. Mengelola hutan dan hasil hutan yang merupakan tuntutan lingkungan global berlandaskan khasanah budaya yang taat azas, telaah kritis, teguh-tekun-ulet dan menjunjung tinggi kejujuran dan tanggung jawab menjadi visi bersama menuju tujuan. Salah satu pilar Unhas mewujudkan Humaniversity.

#Unhas
#Communiversity
#Humaniversity
#CatchWCU

Leave a Reply

Kabar Fakultas

Kerja Sama

Berita Mahasiswa