FIKP Unhas Gelar Program Pemberdayaan Masyarakat dalam Rehabilitasi dan Monitoring Mangrove di Takalar

Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) Universitas Hasanuddin melaksanakan program pemberdayaan masyarakat dalam rehabilitasi dan monitoring magrove. Kegiatan berlangsung di Desa Sanrobone,  Kecamatan Sanrobone, Kabupaten Takalar pada Akhir 2020 lalu.

Prof Dr. Rohani Ambo-Rappe, M.Si., selaku koordinator kegiatan menjelaskan program tersebut mencakup sosialisasi pentingnya ekosistem mangrove, potensi wisata hutan mangrove yang berkelanjutan, implemetasi tambak silvofishery dan diversivikasi produk olahan hasil tambak. Selain itu, dilakukan juga pendampingan masyarakat dalam kegiatan rehabilitasi mangrove.

“Kegiatan pendampingan dan program rehabilitasi dimulai di tanggal 8 September 2019 lalu di Desa Sanrobone yang berlokasi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Kelompok masyarakat yang dilibatkan dalam kegiatan ini adalah masyarakat pemuda peduli lingkungan yang terhimpun dalam Kelompok Julubori, Masyarakat pembudidaya yang terhimpun dalam kelompok Labbiri dan Masyarakat petambak yang terhimpun dalam kelompok Maraja,” jelas Prof. Rohani.

Ekosistem mangrove secara ekologi memiliki fungsi yang sangat beragam seperti menjadi habitat bagi biota laut dan pesisir, stabilisator garis pantai untuk mencegah erosi, juga berperan dalam mencegah intrusi air laut ke darat. Desa Sanrobone yang berlokasi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah yang memiliki tutupan dan keanekaragaman jenis mangrove yang tinggi. Namun beberapa tahun belakangan, kegiatan konversi hutan mangrove menjadi tambak semakin massif terjadi.

Lebih lanjut, Prof Rohani mengatakan kawasan hutan mangrove menjadi semakin menipis sehingga daya dukung lingkungan tambak juga makin rendah. Abrasi, peningkatan kekeruhan air, berkurangnya keanekaragaman, berkurangnya keindahan ekologi pantai, turunnya kualitas air, dan banyak tambak yang tidak dapat berfungsi adalah akibat yang terjadi sebagai konsekuensi dari penebangan mangrove dan konversi lahan.

“Kegiatan monitoring kawasan rehabilitasi ini kemudian dilakukan oleh kelompok masyarakat sebanyak 4 kali disepanjang tahun 2020, dan akan dilanjutkan di tahun 2021. Unhas terus hadir untuk mendampingi masyarakat dalam kegiatan monitoring tersebut. Fokus kita adalah menciptakan kegiatan rehabilitasi yang berkelanjutan,” tambah Prof. Rohani.

Terkait:  Unhas Gelar Workshop Total Quality Service Expert Batch II Bagi Dosen Tetap Non PNS

Tidak hanya mendampingi masyarakat dalam proses penanaman bibit, kegiatan ini juga berupaya untuk melatih kelompok masyarakat dalam memonitoring kawasan yang direhabilitasi secara berjangka. Dengan harapan, kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ekosistem yang dirawat secara kolektif dapat meningkat melalui keterlibatan aktif. (*/mir)

Editor : Ishaq Rahman, AMIPR

Leave a Reply

Kabar Fakultas

Kerja Sama

Berita Mahasiswa