Unhas Kukuhkan Dua Guru Besar Baru

18 Dec 2017 , admin00 Akademik

Prof. Dr. Haliah, SE., M.Si., Akt.,CA dan Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Kes., SpPD., K-GH., Sp.Gk ketika menandatangani berita acara pengukuhan guru besar di hadapan Ketua Senat Akademik, Rektor Unhas, dan Ketua Dewan Guru Besar

Universitas Hasanuddin kembali mendeklarasikan dua orang guru besar baru di Ruang Senat Lantai 2 Rektorat Unhas, Senin, (18/12). Kedua guru besar tersebut adalah Prof. Dr. Haliah, SE., M.Si., Akt.,CA dalam bidang Akuntansi Sektor Publik Fakultas Ekonomi dan Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Kes., SpPD., K-GH., Sp.Gk di bidang Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran.
 
Pengukuhan guru besar ini menambah jumlah guru besar yang ada di Unhas menjadi 378 orang sejak Unhas resmi didirikan pada 10 September 1956. Acara penerimaan jabatan guru besar ini dihadiri oleh Rektor Universitas Hasanuddin, Ketua Senat Akademik dan jajaran Guru Besar, serta sejumlah pimpinan fakultas dan lembaga di lingkungan Unhas. 
 
Dalam pidato pengukuhan jabatan guru besarnya, Prof Haliah mengangkat judul " Revitalisasi Makna Opini Wajar Tanpa Pengecualian Terhadap Kualitas Laporan Keuangan di Tengah Ancaman Krisis Kepercayaan (Suatu Perspektif Multidimensi)." 
 
Perempuan kelahiran Pare-Pare ini mengatakan dalam pidatonya, hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK) masih menunjukkam adanya kekeliruan dalam memaknai opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas laporan keuangan pemerintah daerah. Hal ini disebabkan oleh berbagai dimensi yang memengaruhi lingkungan sektor publik di antaranya faktor politik, budaya, peraturan dan sebagainya. Menurut Ibu tiga anak ini, jika kondisi tersebut dibiarkan terus maka akan menjauhkan esensi dari pemeriksaan keuangan dan tuntutan pelaksanaan akuntabilitas sektor publik itu sendiri. 
 
"Sudah saatnya mengembalikan makna WTP ke hakikat yang sebenarnya sehingga penerimanya bisa betul-betul bangga bahwa sudah berhasil mengelola keuangannya secara baik dan jujur, " ungkap Profesor Haliah.
 
Sementara itu, dalam pidato penerimaan jabatan guru besarnya, Prof Haerani Rasyid mengangkat tema "Manajemen Protein Energy Wasting pada Gagal Ginjal: Tantangan dalam Menurunkan Angka Morbiditas dan Mortalitas Pasien Dialisis."
Perempuan kelahiran Ujung Pandang ini menjelaskan Protein Energy Wasting (PEW) merupakan suatu kondisi malnutrisi dengan penurunan cadangan protein dan energi tubuh termasuk massa lemak. Istilah PEW yang dulu dikenal sebagai Protein Energy Malnutrition ( PEM) ini sering terjadi pada pasien gagal ginjal terutama yang menjalani cuci darah (dialisis). 
 
Menurut Profesor Haerani, masalah PEW pada pasien dialisis adalah masalah kompleks yang disebabkan oleh berbagai macam faktor yang berakibat pada tingginya angka morbiditas (jumlah orang sakit) dan mortalitas (kematian) pasien gagal ginjal. Untuk itu, Ketua Departemen Gizi Klinik Fakultas Kedokteran ini menyarankan, "penanganan PEW pada pasien dialisis perlu dilakukan oleh tim yang melibatkan tenaga perawat, ahli gizi, dokter spesialis gizi klinik, dan dokter spesialis penyakit dalam atau konsultan ginjal hipertensi."
 
Rektor Unhas, Prof. Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA menyambut bahagia acara pengukuhan dua guru besar tersebut. Pengukuhan itu menjadi satu kebanggaan fakultas, Unhas, dan tentunya Indonesia. Sebab, dibandingkan dengan negara-negara luar, Indonesia masih kekurangan profesor. Dan, tahun ini Unhas menghasilkan 20 guru besar, tertinggi di seluruh Indonesia. "Kita harapkan para pimpinan di fakultas bisa mendorong dosen-dosen lain untuk cepat mengupayakan meraih jabatan guru besar. Sehingga, bisa lebih berkarya dan menghasilkan inovasi," katanya.(*)

Baca juga :