Selamat Dies ke-56 Fakultas Peternakan Unhas: Dari Pakan ke Ekosistem Industri, Mendukung Unhas Humaniversity.

10 Oct 2019 , admin-02 Akademik

Melanjutkan bahasan tentang Revolusi Industri (RI) 4.0 dalam kondisi kekinian pastinya masih penuh dengan suasana gegap gempita. Makin menarik dan luas dinarasikan karena tak ada yang berani dengan lantang mengatakan akan bebas dari dampak RI 4.0. Atau sebaliknya, menegasikan pihak lain bahwa pemilik sah domain itu adalah komunitas, kelompok ataupun keahlian tertentu. Semua merasa punyak ‘hak’ untuk menyampaikan kegalauan dan kekhawatiran maupun sisi lainnya yaitu kegembiraan dan kenyamanan sebagai pengguna utama kemajuan teknologi ini. Namun tak banyak yang sudah melakukan ‘kewajiban’ untuk setidaknya menunjukkan aspek kesiapan dan antisipasi, yang ada malah latah dan fasih mengucapkan tapi tak tahu harus melakukan apa dan bagaimana caranya?  
 
Pemerintah kita melalui jargon “Making Indonesia 4.0” dengan motor utama Kementerian Perindustrian mungkin selangkah lebih baik. Visi utamanya adalah revitalisasi sektor manufaktur Indonesia dengan mengembalikan ekspor netto, meningkatkan produksi dengan mengelola biayanya serta membangun kemampuan inovasi lokal. Setidaknya sudah mempersiapkan 10 agenda prioritas nasional dalam MI 4.0 itu. Tentu saja ada yang sifatnya bisa dieksekusi dalam waktu singkat dan segera, maupun yang masih butuh perencanaan dan strategi dalam waktu yang tidak pendek. 
 
Quick Wins pun telah disusun dengan rapi dan terlihat menjanjikan. Peta jalan yang didesain memunculkan 5 sektor industri manufaktur yakni: industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, automotif, kimia dan elektronik. Data BPS dan Pusdatin Kemenperin menunjukkan bahwa kontribusi kelima sektor ini mampu mencapai 60% terhadap PDB nasional. Target yang dicanangkan menuju pada Indonesia sebagai pemimpin ekonomi digital di Asia Tenggara (2020) dan berujung pada peringkat 10 besar ekonomi dunia (2030). Hal yang berulang disampaikan oleh Menteri Perindustrian di berbagai kesempatan dan media. Tapi jangan sampai lupa bahwa yang sering dikeluhkan pelaku industri adalah masih tumpang tindihnya peraturan dan kebijakan industri. Namun secercah harapan muncul dengan masuknya poin itu menjadi salah satu dari 10 agenda prioritas nasional MI 4.0.
 
Saya lebih tertarik bicara sektor pertama yang disebut di atas yaitu industri makanan dan minuman. Secara geografis dan ketersediaan sumber daya, kita ada di garis terdepan untuk itu. Sebagai bagian dari masyarakat maupun komunitas institusi pendidikan tinggi sejatinya terkandung tanggung jawab untuk terlibat langsung dalam menopang sektor tersebut. Ya, mari sejenak kita menengok posisi dan peran kita sejauh ini. Saya ingin mengajak kita semua melihat salah satu sub sektor industri ini yang punya dua produk utama yakni daging dan susu. 
 
Fakultas Peternakan Unhas didirikan berdasarkan kajian atas potensi dan kebutuhan daerah Sulawesi Selatan di bidang peternakan. Diinisiasi Inspeksi Dinas Peternakan Propinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan dengan dibantu oleh Kepala Dinas Lingkungan Peternakan pada tahun 1963 dibentuklah suatu panitia Pendirian Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) yang diketuai oleh Syamsuddin Dg. Mangawing dengan anggota: A. Pangerang Petta Rani, drh. Achmad Dahlan dan drh. Muhammad Gaus Siregar. Pada waktu itu (FKHP) masih berstatus swasta, dan memulai perkuliahan pada tanggal 10 Oktober 1963 dengan staf pengajar dari Universitas Hasanuddin, Dinas Kehewanan dan Instansi lain yang ada hubungannya dengan penyelenggaraan pendidikan di FKHP.  Inilah kemudian yang menjadi tonggak sejarah kelahiran Fakultas Peternakan Unhas. Pada tanggal 1 Mei 1964 FKHP memperoleh status negeri yang diintegrasikan ke dalam Universitas Hasanuddin dengan nama Fakultas Peternakan berdasarkan SK Menteri PTIP No: 37/1964.
 
Menjadi Fakultas ke-9 Unhas tentunya bukan perjuangan yang ringan. Hanya memiliki 4 tenaga pengajar di awal perjalanannya dengan keharusan mengasuh 79 mahasiswa saat itu. Di usia yang mulai menanjak, ada keputusan yang mesti diterima bahwa Fakultas Peternakan disatukan dengan Fakultas Pertanian menjadi Fakultas Ilmu-ilmu Pertanian. Ibarat sebuah “perintah”, ini mesti dilakoni dengan tulus dan ikhlas. Namun tak lama, sekira 5 tahun menjalaninya, tepat di awal Oktober 1982 Fakultas Peternakan kembali menjadi dirinya sendiri.  
 
Tidak cukup setahun, “perintah” baru datang. Malah kondisinya jadi berbalik. Fakultas Peternakan bukan diminta untuk bergabung tapi justru harus “adopsi” adik baru. Jurusan Perikanan yang sebelumnya adalah saudara kandung di Fakultas Ilmu-ilmu Pertanian, kembali jadi saudara kandung dan ikhlas harus berbagi nama menjadi Fakultas Peternakan dan Perikanan.  Saat itu fakultas ini membina 4 jurusan yaitu 3 prodi peternakan dan 1 prodi perikanan. 
 
Lagi-lagi keikhlasan harus diuji, setelah hampir 13 tahun ‘mengayomi’ saudara kandung dalam kebersamaan satu atap fakultas. Sang saudara kandung, Perikanan, meminta izin untuk menjalani atap terpisah. Tepatnya di tahun 1996, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) resmi diluncurkan. Sejak itulah Fakultas Peternakan membawa panji kebesaran sendiri hingga kini.  
 
Memiliki 3 prodi sejak awal dan ditambah satu prodi tahun 2002 dengan komposisi: Produksi Ternak, Nutrisi dan Makanan Ternak, Sosial Ekonomi Peternakan dan Teknologi Hasil Ternak. Namun tahun 2010 sesuai nomenklatur yang dikeluarkan SK Dirjen Dikti Kemendiknas keempat program studi tersebut dilebur menjadi satu program studi yaitu Program Studi Peternakan. Itulah yang berlaku hingga saat ini.
 
Mau tanya akreditasi prodinya, Fakultas Peternakan adalah salah satu referensi terbaik untuk berguru. Sejak masih memiliki 4 prodi, fakultas ini melesat terdepan dalam mengejar pengakuan akreditasi. Sudah terakreditasi A sejak awal sehingga kita dilebur menjadi 1 prodi S1 bukan masalah besar bagi fakultas ini. Saat ini Fakultas Peternakan mengasuh 3 prodi yaitu S1 Peternakan, S2 Ilmu dan Teknologi Peternakan dan S3 Ilmu Peternakan. S1 dan S2 telah mengantongi akreditasi A dari BAN-PT sedangkan S3 adalah prodi baru sejak tahun 2019.
 
Di level internasional, Fakultas Peternakan tak mau ketinggalan. Prodi S1 Peternakan sudah mengantongi standar AUN-QA sejak pertengahan tahun 2019. Selain itu sedang mempersiapkan akreditasi laboratorium sebagai pionir di Unhas. Hal yang tak boleh dilupakan bahwa fakultas ini punya teaching industry Maiwa Breeding Center yang sudah menjadi branding Unhas dan Kemenristedikti. 
 
Ada yang sangat “nyata” di fakultas ini, setelah sekian tahun perjalanan Unhas menggagas unit bisni, kini mereka punya unit bisnis yang telah berjalan secara utuh. Maiwa Breeding Center dan Closed House telah menelorkan produk yang konkret.  Bahkan sudah bisa mengirim produk ke wilayah lain. Yang tak terlupakan adalah sumbangsih fakultas ini untuk korban gempa Palu. Ada 1 ton Bakso dan 1 ton Nugget siap makan yang jadi bukti bagaimana Unhas Humaniversity in action.
 
Salah satu fakultas yang mempunyai SDM dengan kualifikasi kelas satu. Fakultas ini diasuh 69 dosen aktif. 78 % diantaranya bergelar Doktor tamatan dalam dan luar negeri yang menjadi salah satu prosentase tertinggi di Unhas. Ditopang 19 professor aktif dengan keahlian yang beragam. Juga menjadi prosentase tertinggi di Unhas. Modal yang sangat besar untuk menyelami dunia revolusi industri khususnya industri makanan dan minuman. Tentu itu semua tidak lepas dari tangan dingin Sang Dekan, Porf. Dr. Lellah Rahim, MSc. Lulusan Jepang ini terkenal tidak banyak bicara. Tipikal Dekan pekerja keras dan jarang duduk di kursinya, lebih senang berkantor di lapangan ini piawai “mengatur orang” dalam ketenangannya. Tentu saja apa yang dicapainya juga hasil kerja para Dekan, pimpinan dan sivitas akademika Fakultas Peternakan sebelumnya. Sebagaimana menyantap daging barbeque kegemaran, ada yang bekerja dibanyak tempat hingga bisa sampai di meja makan. Mengurus bibit, disemai, dikembangbiakkan, di kirim, di potong dan hingga diolah menjadi makanan. Demikian pula halnya dengan produk lainnya yaitu susu hingga siap jadi minuman. Fakultas Peternakan besar karena mereka semua.
 
Hari ini, 10 Oktober 2019, tonggak sejarah awal itu genap berusia 56 tahun. Usia yang tentunya tidak muda lagi bagi Fakultas Peternakan. Namun kiprah keilmuan dan saluran pengabdian untuk masyarakat dan bangsa terus harus berlanjut. Selamat Dies Natalis ke-56 Fakultas Peternakan Unhas. Adaktif, kreatif dan fleksibel disertai kearifan lokal adalah ‘pakan’ bersama menggapai tujuan. Salah satu garda terdepan Unhas mewujudkan Humaniversity. 
 
#Unhas
#Communiversity
#Humaniversity

Baca juga :