Rektor Unhas: “Saya ingin kita bicara Pancasila seperti bicara Sepakbola”

9 Jul 2018 , admin00 Akademik

Rektor Unhas, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, dan Para Nara Sumber foto bersama Mahasiswa Pencinta Pancasila (MPP) Unhas yang baru saja dikukuhkan.

Universitas Hasanuddin menggelar Tudang Sipulung Kebangsaan pada Senin, 9 Juli 2018, mulai pukul 13.00 WITA, bertempat di Gedung IPTEKS, Kampus Unhas, Tamalanarea.  Acara yang mengangkat tema: “Bhinneka Tunggal Ika dalam Bingkai NKRI” ini menghadirkan nara sumber Yudi Latief, MA, Ph.D (penggagas Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, BPIP), Prof. Dr. Anhar Gonggong (sejarawan), dan Dr. Heri Santoso, M.Hum (dosen Filsafat UGM, Kepala Pusat Studi Pancasila UGM).
 
Tudang sipulung yang digagas oleh UPT Mata Kuliah Umum (MKU) dan Bidang Kemahasiswaan Unhas ini berangkat dari kepedulian civitas akademika Unhas terhadap maraknya isu radikalisme di dunia pendidikan tinggi, khususnya di kampus.  Acara ini digelar untuk mendorong agar nilai-nilai Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, toleransi, dan keberagaman menjadi sesuatu yang terus teraktualisasi dalam kehidupan kampus.
 
Dalam sambutan pada pembukaan acara, Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA, menyampaikan bahwa sebagai pimpinan perguruan tinggi, dirinya cukup khawatir dengan maraknya isu-isu terkait radikalisme yang menerpa kampus akhir-akhir ini.  “Sejujurnya, ada kehawatiran jangan-jangan memang kita sedang mengalami keroposnya nilai-nilai kabangsaan dari dalam.  Oleh karena itu, ada kewajiban kami untuk terus-menerus mengokohkan nilai-nilai kebangsaan,” kata Dwia.
 
Untuk menjawab kehawatiran tersebut, Dwia Aries Tina mengajak untuk kembali menggali kekayaan dan keragaman bangsa ini manjadi sesuatu yang bermanfaat untuk memperkuat kebangsaan.  
 
“Kita ingin agar anak-anak kita memiliki informasi yang terus-menerus yang kita siapkan, bukan berasal dari media sosial saja.  Pengayaan kesadaran kebangsaan ini jangan hanya pada saat 17 Agustus atau 10 November saja.  Kita perlu menjadikan pembicaraan tentang Pancasila itu menjadi sesuatu yang menarik, bukan sesuatu yang menakutkan.  Bahkan, saya memiliki ide agar pembicaraan tentang Pancasila itu adalah pembicaraan yang menyenangkan seperti halnya kalau kita membicarakan sepak bola.  Kita membicarakannya dengan penuh semangat dan antusias,” papar Prof. Dwia.
 
Menutup sambutannya, Prof. Dwia menegaskan bahwa keberagaman sebenarnya bisa digali dari berbagai sisi, misalnya dari pendekatan agama, keberagaman itu adalah sunatullah.
 
*Yudi Latif: Mahasiswa Pencinta Pancasila Unhas Pertama di Indonesia*
 
Mengawali tudang sipulung, Rektor Unhas mengukuhkan pembentukan Majelis Pencinta Pancasila (MPP) dan Pelaksanaan Kegiatan Studi Al-Qur’an Intensif (SAINS).  MPP merupakan wadah untuk membangkitkan minat dan perhatian mahasiswa terhadap pengkajian dan aktualisasi nilai-nilai Pancasila, melalui pembentukan komunitas mahasiswa yang menjadi motor untuk mengamalkan Pancasila.
 
MPP digagas oleh Tim Pengkaji Ideologi Pancasila di bawah Bidang Kemahasiswaan Unhas.
 
Dalam pemaparannya, Yudi Latif menyatakan salut dan apresiasi terhadap pembentukan MPP ini.  “Saya sudah berkeliling kemana-mana di seluruh Indonesia, saya sudah berkunjung ke berbagai Kampus di tanah air. Baru kali ini saya menemukan ada komunitas Mahasiswa Pencinta Pancasila,” kata Yudi.
 
Yudi Latif yang baru saja melepas jabatan sebagai Ketua BPIP ini berbicara tentang ideologi Pancasila dari perspektif keragaman.  Indonesia, menurut Yudi, merupakan perpaduan keragaman dari berbagai model keragaman di seluruh dunia. “Kita negeri yang sangat bhinneka dari berbagai variabel.  Dari aspek geografis, aspek manusia, atau aspek strategis yang dapat kita temukan di seluruh dunia ini bisa diringkas dalam miniatur bernama Indonesia,” kata Yudi.
 
Pulau Sulawesi, menurut Yudi, merupakan jembatan keberagaman Indonesia.  Ia menguraikan bagaimana perkembangan sejarah dan peradaban serta asal mula kehidupan manusia.  Bahkan, abad penemuan dunia baru oleh dunia barat sebenarnya merupakan penemuan terhadap Indonesia.
 
“Indonesia tidak pernah bisa tidur nyenyak karena posisinya yang strategis. Itu bukan realitas hari ini.  Realitas itu sudah terjadi sejak ribuan tahun lalu.  Kita tinggal memilih, apakah karena keragaman dan posisi strategis itu kita akan konflik dan berkelahi, atau saling mengenal dan saling belajar. Pancasila berperan untuk itu,” kata Yudi.(*)
 

Baca juga :