Prof. Dwia Bahas Strategi Mencapai Visi Indonesia 2045

14 Aug 2018 , admin00 Akademik

Rektor Unhas, Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA membawakan ceramah tentang Visi Indonesia 2045 dihadapan 850 peserta Conference of Indonesian Diaspora Youth, Jakarta, 14 Agustus 2018 (foto: handover)

Selasa, 14 Agustus 2018, Rektor Universitas Hasanuddin Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA menjadi nara sumber utama pada Conference of Indonesian Diaspora Youth (CIDY) yang berlangsung di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta.  Konferensi bertema “Merancang Visi Indonesia 2045” ini dihadiri oleh sekitar 850 peserta Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) dari seluruh dunia, wakil-wakil dari 34 propinsi, serta wakil-wakil mahasiswa dan pelajar dari seluruh Indonesia.
 
Konferensi ini digelar oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang dipimpin oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal.
 
Prof. Dwia Aries Tina, dalam kapasitas sebagai Ketua Forum Rektor Indonesia (FRI) memaparkan pandangan dan gagasannya pada sesi panel yang berlangsung pukul 09.00 – 11.00 WIB.  Dalam pidato pengantar bertema “Indonesia 2045” Prof. Dwia memaparkan realitas diaspora Indonesia yang merupakan potensi besar bagi masa depan Indonesia.
 
“Meskipun tidak ada data pasti, namun diperkirakan ada sekitar 5 sampai 7 juta diaspora Indonesia di seluruh dunia.  Menurut estimasi Kementerian Luar Negeri pada 2017, terdapat sekitar 6 juta orang Indonesia di luar negeri.  Mereka-mereka ini memiliki kemampuan, keahlian, dan pengetahuan yang luar biasa, bahkan tidak sedikit yang mencatatkan prestasi mengagumkan di luar negeri,” kata Prof. Dwia.
 
Kekuatan diaspora Indonesia seharusnya dapat dioptimalkan untuk mencapai Indonesia masa depan yang unggul dan memiliki daya saing.  Sebagaimana diketahui, visi Indonesia telah dicanangkan oleh berbagai institusi.  Bappenas, misalnya, merumuskan Indonesia masa depan sebagai negara yang berdaulat, maju, adil, dan makmur.  Forum Rektor Indonesia merumuskan visi Indonesia 2045 sebagai “Negara Sejahtera”.  Sementara Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, menggunakan istilah “Generasi Emas”.
 
Untuk mencapai kondisi Indonesia sejahtera atau generasi emas pada tahun 2045, kita memiliki sejumlah tantangan yang harus dijawab sejak sekarang.  Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merumuskan setidaknya 10 tantangan yang dihadapi, yaitu: middle income trap, keamanan dan kedaulatan pangan, ekologi yang selalu berubah, kelas menengah yang bertumbuh, cadangan energi fosil yang menipis, demokrasi yang masih muda, keragaman suku dan budaya, megabiodiversity, sumber daya maritim yang belum tergali, serta status ring of fire yang membuat kita rentan terhadap bencana alam.
 
“Tidak ada jalan lain, Indonesia harus memperkuat pendidikan, memperkuat karakter bangsa, untuk meningkatkan daya saing.  Untuk itulah, peranan masyarakat terdidik ini sangat penting,” kata Prof. Dwia.
 
Dalam rangka mewujudkan Indonesia 2045 yang dicita-citakan tersebut, Prof. Dwia menawarkan tiga fokus utama dalam pembangunan nasional. 
 
“Pertama adalah kita harus fokus pada peningkatan SDM melalui pendidikan, kesehatan, dan karakter.  Kedua, kita harus konsisten menjaga dan memperkuat NKRI melalui kepemimpinan cerdas berkarakter, nasionalisme dan cinta tanah air, dan penguatan demokrasi pancasila.  Ketiga, kita harus fokus mewujudkan masyarakat yang sejahtera melalui pertumbuhan ekonomi yang inklusif, dan inovasi teknologi unggul,” kata Prof. Dwia.
 
Prof. Dwia menutup presentasinya dengan memaparkan tiga wujud Indonesia 2045 yang dicita-citakannya, yaitu: bangsa yang unggul, negara adil dan demokratis, masyarakat cerdas dan sejahtera.  “Cita-cita ini dapat kita capai dengan mempersiapkan sumber daya manusia yang handal, serta mengoptimalkan sinergi antara seluruh elemen bangsa Indonesia,” tutup Prof. Dwia.
 
Turut hadir sebagai pembicara dalam forum ini adalah beberapa tokoh inspiratif yang menorehkan prestasi atau yang memiliki kisah hidup membanggakan.  Antara lain, Ranomi Kronowidjojo (perenang olimpiade), Dr. Dino Patti Djalal (Ketua Dewan Pembina Indonesian Diaspora Network Global), dan Fadjar Mulya (Koordinator PPI Dunia).
 
CIDY 2018 digelar dengan membagi peserta pada beberapa panel yang membahas topik-topik spesifik.  Menurut rencana, CIDY akan ditutup pada Rabu, 15 Agustus 2018 dengan pembacaan rekomendasi dan visi bersama diaspora pemuda Indonesia.(*)

Baca juga :