Perempuan di Parlemen, Hegemoni atau Memengaruhi

23 Apr 2016 , humas01 Akademik

Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu menerima buku dari Dr.Joost Cote dari Monash University, Melbourne, Australia didampingi Dekan FIB Unhas Burhanuddin Arafah pada Seminar Internasional tentang Kartini di Gedung Ipteks, Sabtu (23/4/2016). (Foto:mda).

Jurusan Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Unhas, Sabtu (23/4/2016) menggelar Seminar Internasional mengenai Kartini di Gedung Ipteks Unhas. Selain Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu, dua pembicara tamu, Dr.Joost Cote dari Monash University, Melbourne Australia dan Dr.Michiko Hosobuchi dari Tokyo Metropolitan University, Jepang tampil dalam seminar yang dipadati kaum hawa tersebut.

Rektor Unhas ketika membuka seminar mengatakan, membicarakan Kartini tidak semata-mata membanggakan masa lampu, tetapi bagaimana inspirasinya  buat kita menghadapi dan mengawal masa depan.

‘’Judul seminar ini sangat futuristik,’’Kartini Zaman Baru’’. Ini merupakan hal yang sangat diapresiasi, karena berbicara Kartini secara mendunia kita maklum punya nama besar. Pada zamannya dia sudah memiliki skala internasional,’’ kata Dwia Aries Tina yang belum lama ini merayakan ulang tahun ke-52 (19 April). 

Sekarang yang harus dipikirkan, kata Dwia Aries Tina Pulubuhu, bagaimana karya-karya dan upayanya saat ini dapat menjadi satu aspek demi kebaikan kemanusiaan, khususnya perempuan, sektor pendidikan, kesehatan, politik, tenaga kerja, ekonomi. Apakah dalam curhatnya tentang keinginannya sudah kita dalami atau tidak.

Berkaitan dengan hak perempuan sejak zaman lampau secara politik sejak tahun 1955, perempuan sudah menjadi anggota konstituante (parlemen). Soal politik sebenarnya, perempuan Indonesia sudah lebih maju dari beberapa negara Barat. Pada masa itu kita sudah memberikan hak politik perempuan untuk bebas menjadi anggota parlemen.

Pada masa kini geliat politik perempuan itu dikuatkan dengan regulasi kuota 30% keterwakilan perempuan di lembaga legislatif. Pertanyaannya adalah apakah ini sebagai suatu hegemoni ke-parlementer-an perempuan atau betul keterlibatan perempuan di parlemen memiliki pengaruh dalam menentukan kebijakan-kebijakan politik, ekonomi, kebijakan lainnya.

Apakah dengan 30% di parlemen itu bisa membuat – jika  masih hidup --  Kartini bisa tersenyum? Apakah masih bisa tersenyum dengan keterlibatan perempuan Indonesia saat ini. Mesti kita lihat dengan keterlibatan perempuan zaman sekarang melalui berbagai pintu. Ada melalui jalur kompetensi, jalur kekerabatan, paksaan dari partai.

‘’Saya katakana pada perempuan di Parlemen, ibu masuk dari jalur mana? Tetapi setelah di dalam, ibu sudah punya panggung, mainkan itu,’’ kata Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu ketika membuka Seminar Internasional ‘’Kartini Zaman Baru’’ di Gedung Ipteks Unhas, Sabtu (23/4/2016).

Dwia mempertanyakan bagaimana cara perempuan berperan. Tidak usah beri perhatian pada banyak fokus jika ingin berperan. Kuasai masalah kesehatan, dan jika tertarik pada tenaga kerja, keprihatinan manusia terhadap tenaga kerja. Caranya bagaimana? Bersuara melalui komunikasi politik. Menguasai bahasa, tahu baca porsi anggaran, dan berbagai kebijakan yang akan dilaksanakan. 

‘’Memang kita sudah gembira dengan kuota itu, tetapi apa yang dapat kita berbuat ke depan,’’ kata Dwia dalam acara yang juga menampilkan pembicara Dr.Joost Cote dari Monash University, Melborune, Dr.Michiko Husobuchi, Tokyo Metropolitan University.

Seminar ini yang dimulai pukul 08.30 WITA diawali dengan menayangkan film dokumenter tentang Kartini dan pertunjukan sinrili sambil pembacaan potongan surat Kartini. Tepat pukul 09.00 Wita,  sambutan dan laporan ketua panitia, Margriet M Lappia, M. S.,  dilanjutkan sambutan  Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Prof. Drs. Burhanuddin Arafah, M. Hum., Ph. D., dan opening speach oleh rektor Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Dwia Aries Tina P, M.A..

Keynote speaker pertama oleh Dr. Joost Cote, pakar Kartini Adjunct-Professor pada Departemen Sejarah Universitas Monash, Melbourne, Australia membahas tentang Raden Ajeng Kartini: Writer and Cultural Nationalist”.

Setelah isoma, Dr. Michiko Hosobuchi, Antropolog, Dosen Jurusan Antropologi Universitas Metropolitan Tokyo, Jepang dan Peneliti tentang Perempuan Urban Jakarta sebagai keynote speaker kedua.  Dia membahas tentang The Role of Women in an Indonesia Urban Community.

 Presentasi panel menampilkan A. Fatikhul Amin Abdullah, Pendidikan Sejarah STKIP PGRI Sidoarjo, membahas tentang “Women’s Movement in Indonesia 1928 – 1974 Demands Equal Rights in Household and Marriage”. Presentasi panel kedua oleh Yostiani Noor Asmi Harini, M. Hum, dari Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS Universitas Pendidikan Indonesia, membahas tentang Dari Nini Anteh ke Kartini: Representasi Kemandirian Perempuan dalam Dongeng dan Sejarah”.

 Presentasi panel ketiga oleh H. Muh. Bahar Akkase Teng. Lcp, M. Hum., membahas tentang Perempuan Indonesia Dalam Berbagai Perspektif  Politik, Media dan Psikologi”. Sesi tanya jawab dipimpin oleh moderator, Drs. Dias Pradadimara, M.A.

 Presentasi panel keempat oleh Yulianeta, Departemen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung membahas tentang “Membaca Semangat Perjuangan Kartini dalam Novel-Novel Pramoedya Ananta Toer”, dilanjutkan presentasi panel kelima oleh  Prof. Abd. Rasyid Asba, M.A., dosen  Jurusan Ilmu Sejarah Unhas membahas tentang “Citra Wanita Aceh: Cut Nya’ Din dalam Pers Kolonial”.

 Presentasi panel keenam oleh Drs. Dias Pradadimara, M.A., dosen Jurusan Ilmu Sejarah Unhas, membahas tentang “Perempuan, Gender, dan Seksualitas dalam Penulisan Sejarah Indonesia” dan presentasi panel ketujuh oleh Muhammad Hasyim, dosen Jurusan Sastra Perancis Unhas dipimpin oleh Dr. Edward L Poelinggomang sebagai moderator kedua pada sesi presentasi dan tanya jawab kedua. Terlaksananya seminar ini, ditutup oleh Dr. Bambang Sulistyo Edi Purwanto, M.S., selaku ketua Jurusan Ilmu Sejarah Universitas Hasanuddin pada sekitar pukul 16.10 Wita.

 

 

Baca juga :