Penerimaan Jabatan Guru Besar Prof. Dr. Rabina Yunus, M.Si

18 Sep 2018 , admin00 Akademik

Universitas Hasanuddin kembali mengorbitkan Rabina Yunus sebagai guru besar baru dalam bidang Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas di ruang Senat Gedung Rektorat Unhas, Selasa (18/09/2019). Acara pengukuhan jabatan guru besar ini menambah jumlah profesor di Unhas menjadi 387 orang.

Pengukuhan Prof. Dr. Rabina Yunus, M.Si dihadiri Rektor, Ketua Senat Akademik, Ketua Dewan Profesor, jajaran anggota senat Universitas Hasanuddin, civitas akademika dan tamu undangan.  Dalam acara pengangkatan jabatan guru besarnya, Prof Rabina Yunus membawakan pidato pengukuhan dengan judul “Meletakkan Perspektif Gender Dalam Strategi Kebijakan Pemerintah Pada Upaya Pengentasan Kemiskinan.”


Prof Rabina Yunus mengungkapkan, berdasarkan data BPS per September 2016, angka kemiskinan mengalami penurunan dari 28,01 juta orang atau 10,86 persen pada Maret 2016 menjadi 27,76 juta orang (10,70 persen).

Namun pada Maret 2017, jumlah penduduk miskin bertambah jadi 27,77 juta orang atau 10,64 persen. Angka tersebut secara persentase memang mengalami penurunan, namun secara realitas empiris jumlah orang miskin bertambah.

Fakta itu menunjukkan, berbagai kebijakan dan program pengentasan kemiskinan yang dilakukan pemerintah nampaknya belum menunjukkan hasil yang memuaskan. Strategi pemerintah belum bisa menyentuh aspek mendasar kondisi kemiskinan masyarakat di Indonesia, terutama yang dialami oleh kaum perempuan.

Permasalahan kemiskinan pada kalangan perempuan di Indonesia, menurut Kepala Pusat Penelitian Pengembangan Gender dan Kependudukan (P3KG) Unhas ini, sangat terkait dengan dinamika isu gender yang ada di tanah air. Prof Rabina Yunus mengatakan, persoalan kemiskinan perempuan lebih kompleks dan kronis dibandingkan yang dihadapi laki-laki.

Kemiskinan yang dialami perempuan, kata Rabina, menggambarkan adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan dalam soal akses, yaitu akses perempuan terhadap pekerjaan, upah yang sama, aset produktif, perlindungan hukum, layanan kesehatan reproduksi, pendidikan, pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan, beban kerja, dan akses politik.

“Maka upaya penyusunan strategi kebijakan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan sudah seharusnya memasukkan perspektif gender yang tidak saja menempatkan kesetaraan sebagai titik sentralnya, namun juga menekankan bahwa persoalan yang dihadapi perempuan seringkali lebih kompleks dibandingkan laki-laki,” katanya.

Sehingga, sejak awal proses penyusunan kebijakan hingga implementasi strategi kebijakan pengentasan kemiskinan harus dilakukan dengan kesadaran bahwa kemiskinan kaum perempuan memerlukan strategi kebijakan yang lebih sesuai dengan konteks dan permasalahannya.

“Tanpa menempatkan pemahaman tentang masalah yang khas dihadapi perempuan serta kurangnya pelibatan mereka maka program pengentasan kemiskinan tidak bisa menjangkau masalah permasalahan mendasar yang melanda perempuan Indonesia, “ tutup Prof Rabina Yunus di akhir pidatonya.

Rektor Unhas Prof Dwia Aries Tina Pulubuhu menyatakan kebahagiaannya atas acara pengukuhan guru besar tersebut. Sebab, jumlah dosen penerima jabatan guru besar makin bertambah. Penambahan jumlah guru besar tersebut diharapkan akan meningkatkan kontribusi Unhas terhadap pengentasan persoalan yang dihadapi Indonesia.

Karena itu, kata Prof Dwia, penerimaan jabatan profesor menunjukkan adanya tambahan tanggung jawab untuk terus berbuat dan berkarya untuk kemajuan bangsa dan negeri ini. Sehingga, acara pengukuhan guru besar tersebut bukanlah akhir dari tugas dan tanggung jawab seorang dosen.

“Sebenarnya dalam pengukuhan guru besar ini ada kegembiraan tapi di sisi lain ada tanggung jawab. Namanya guru besar, jadi tanggung jawabnya lebih besar lagi,” ucap Prof Dwia.

Rektor Unhas menambahkan pihaknya akan terus meningkatkan kualitas SDM yang dimiliki Unhas. Pencapaian Unhas sebagai perguruan tinggi yang memiliki rangking tertinggi dalam SDM diharapkan bisa mendorong Unhas menghasilkan kualitas lulusan yang terbaik.

“Tahun ini kita naik rangking lagi di posisi kedelapan, yang dinilai dari SDM, kelembagaan, penelitian, kemahasiswaan, dan sebagainya. Untuk rangking SDM kita rangking teratas, nomor satu di Indonesia. Ukurannya karena kita melahirkan banyak guru besar, tata kelola SDM yang baik, penjenjangan karir ditata dengan baik, dan lainnya, “ katanya.(*)

Liputan: Hidayat Doe
Foto: Arisal


Baca juga :