Majelis Wali Amanat dari 11 PTNBH se-Indonesia Bertemu di Unhas

12 Feb 2020 , admin-02 Akademik

Para ketua MWA dari 11 Perguruan tinggi Negeri foto bersama diakhir acara pembukaan, Rabu (12/02).

Universitas Hasanuddin menjadi tuan rumah dalam pertemuan Forum Majelis Wali Amanat (MWA) 11 Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTNBH). Acara pertemuan yang mengusung tema “Optimalisasi Otonomi Dalam Meningkatkan Kemandirian PTN Badan Hukum” berpusat di Gedung Center of Microfinance, Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu (12/02).
 
Forum ini dihadiri oleh lebih 150 peserta unsur MWA dari 11 PTNBH seluruh Indonesia, yaitu: 
 
(1) Universitas Airlangga, Surabaya, 
(2) Universitas Diponegoro (Undip), Semarang,
(3) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta,
(4) Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar; 
(5) Universitas Indonesia (UI), Jakarta,
(6) Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung, 
(7) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, 
(8) Universitas Sumatera Utara (USU), Medan, 
(9) Institut Pertanian Bogor (IPB),
(10) Institut Teknologi Bandung (ITB),
(11) Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Surabaya,
 
Acara pembukaan yang berlangsung pada pukul 09.00 Wita dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan (Prof. Dr. Ir. Nurdin Abdullah, M.Agr), Ketua Majelis Wali Amanat Unhas (Komjen Pol. Purn. Drs. Syarifuddin, M.Si), serta Staf Ahli Relevansi dan Produktivitas Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan yang mewakili Menteri (Prof. Dr. Ismunandar).
 
Beberapa tamu yang hadir antara lain: Letjen TNI (purn) Agum Gumelar (Ketua MWA UPI Bandung), Prof. Dr. Muhammad Nuh (Ketua MWA ITS), Ir. Yani Panigoro, MM (Ketua MWA ITB), H.M. Aksa Mahmud (anggota MWA Undip Semarang), Dr. Iqbal Suhaeb (Pj. Walikota Makassar), dan Prof. Dr. Basri Hasanuddin, MA (Tokoh Masyarakat).
 
Dalam sambutan mengawali kegiatan, Rektor Unhas (Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA) mengungkapkan rasa bangga atas kepercayaan yang diberikan sebagai tuan rumah penyelenggaraan. Melalui kegiatan ini, Prof Dwia berharap kegiatan ini bisa menghasilkan gagasan dan ide inovatif sebagai bahan rujukan untuk kemajuan PTNBH secara khusus, dan seluruh Perguruan Tinggi secara umum. 
 
Prof Dwia mengungkapkan bahwa pemikiran, ide dan dukungan MWA sangat dibutuhkan oleh pengelola universitas. Beliau juga menuturkan saat ini tantangan PTNBH semakin kompleks dan membutuhkan komitmen serta sinergi sekaligus fasilitas yang kuat. 
 
“Dengan kebijakan Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar, maka kami pengelola universitas dituntut untuk mencari titik temu agar bisa menyesuaikan dengan peraturan baru tersebut. Sementara itu, anggaran kita terbatas, padahal kita membutuhkan penambahan pembiayaan. Selain itu, universitas juga dituntut meningkatkan prestasinya dalam World Class University, penelitian, dan publikasi yang menjadi pemantik proses akademik.  Sementara peneliti kita masih disibukkan dengan administrasi laporan ketimbang laporan substansi,” jelas Prof Dwia. 
 
Pada kesempatan yang sama, Ketua MWA Unhas, Komjen Pol. Purn. Drs. Syafrudddin, M.Si., mengungkapkan bahwa saat ini perguruan tinggi dituntut untuk meningkatkan daya saingnya dalam upaya pencapaian kinerja dalam World Class University (WCU), sebagai langkah mendorong peningkatan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif.  Untuk mencapai hal tersebut, perguruan tinggi harus meningkatkan daya saingnya.
 
“Indonesia kini berada diperingkat ke-77 dari 119 negara dalam global talent competitiveness index. Untuk perbaikan indeks ini perguruan tinggi harus terus meningkatkan daya saing  menciptakan generasi generasi yang unggul. Meningkatan daya saing perguruan tinggi menuju world class universty sebagai back bones keilmuan melalui riset dan kajian di universitas,” kata Syafruddin.
 
Lebih lanjut Syafruddin menjelaskan dalam rangka menuju World Class University maka kampus di dalam negeri perlu melakukan transfer of knowledge dalam rangka melahirkan best practice melalui program double degree. 
 
“Ada proses transfer of knowledge  yang  melahirkan best practice  dalam  berbagai bidang. Oleh karenanya saya telah menginisiasi kerjasama program double degree untuk pengembangan kapasitas sumber daya manusia yang lebih unggul,” jelas Syafruddin.
 
Sementara itu, Staf Ahli Relevansi dan Produktivitas Kemenristekdikti, Dr. Ir. Agus Puji Prasetyono, M.Eng, menjelaskan mengenai kebijakan anggaran Perguruan Tinggi yang saat dijalankan. Anggaran dana 50% saat ini hanya bersifat sementara, seyogyanya anggaran dana tersebut akan diberikan 100% namun memang saat ini terkendala pada Perguruan Tinggi Kementerian Lain (PTKL), sehingga pendanaan yang diberikan saat ini sebesar 50%.
 
“Indikator kinerja Ristekdikti dilihat dari publikasi dan lulusan program pasca yang ada di universitas PTNBH. Jadi, kami sangat bergantung pada PTNBH, dukungan dan kerja sama kita harapkan bisa terus terjalin. Berkat kerja sama selama ini, publikasi dari segi kuantitas bisa menyalip Malaysia. Sekarang ini tinggal bagaimana kita meningkatkan kualitasnya dan berupaya agar inovasi yang dihasilkan bisa terkomersialisasikan dengan baik,” jelas Agus. 
 
Dalam pidato sebelum membuka acara, Gubernur Sulsel, Prof. Dr. Ir. H.M. Nurdin Abdullah, M.Agr, mengungkapkan keuntungan kolaborasi antara akademisi, pemerintahan maupun industri. Universitas merupakan dapur kebijakan yang tepat untuk menghasilkan rancangan peraturan yang memberikan manfaat lebih kepada masyarakat.
 
“Jika pemerintah bersinergi dengan segala unsur, maka hal ini bisa menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Sulsel mencapai 7,2%, dan inflasi hanya 2,1%, untuk itu Pemerintah Sulsel selalu berupaya membangun sinergi dengan segenap unsur masyarakat, terutama perguruan tinggi,” jelas Nurdin. 
 
Diakhir sambutannya, Nurdin Abdullah berharap melalui sinergi ini, secara perlahan Sulsel bisa mengembalikan keunggulan yang dimiliki dengan bantuan kalangan akademisi Unhas sebagai dapur kebijakan. 
 
Usai pembukaan secara resmi, kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama membahas isu-isu strategis terkait otonomi pendidikan tinggi, khususnya yang menjadi mandat PTNBH.  Para anggota MWA dari berbagai PTNBH berbagi pengalaman dan mendiskusikan tantangan-tantangan yang dihadapi, serta bersama-sama mencari alternatif solusinya. 
 
Kegiatan ini dijadwalkan akan berlangsung hingga esok hari, Kamis (13/02).(*)
 
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR

Baca juga :