’House and Home’’ di Reuni Sastra Unhas

21 Feb 2017 , Humas01 Akademik

Dua kata bahasa Inggris ini, memang bermakna sama, rumah. Namun house juga dimaknakan sebagai rumah tangga, Dewan Perwakilan Rakyat, majelis, keturunan kerajaan. Home, selain rumah, juga tempat diam (tinggal), kampong halaman, panti asuhan.

Namun dalam tataran fiolosofis, Ishak Ngeljaratan memaknai house adalah batu bata. Fundasi terbentuknya sebuah tempat tinggal. Sementara home, adalah cinta, tanah air, tumpah darah dan ibu pertiwi.

‘’Allah itu menciptakan manusia di bumi ini berbeda, namun perbedaan itu membuat orang merasa saling membutuhkan,’’ kata Ishak Ngeljaratan pada acara Reuni Fakultas Sastra Unhas, Sabtu (18/2/2017).

Didampingi pemandu Alwy Rachman yang juga muridnya dan Ishak Ngeljaratan selalu mengatakan kembali dia ‘’guru’’-nya, Ishak Ngeljaratan berbicara mengenai perbedaan merefleksikan tema reuni yang bertajuk ‘’Dengan Jiwa Nasionalisme Kita  Rawat Persatuan Indonesia’’.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita tidak bisa melupakan nasionalisme dan patriotisme. Di tengah kedua aspek ini, perlu ada nilai yang hadir, yakni keadilan. Amar makruf nahi mungkar harus kita kendalikan dengan menciptakan cinta kasih pada diri sendiri dan pada sesame jika hendak menjaga alam semesta ini.  Dalam hidup dan kehidupan ada kecenderungan alamiah dan juga ada interaksi interdependensi.

‘’Agama untuk manusia dan jaga membunuh manusia gara-gara agama. Kita harus saling memberi dan menerima. Hidup ini bukan hanya bersama, melainkan juga hidup bersesama dalam home,’’ ujar Ishak Ngeljaratan. 

Dia juga mengatakan, kita memiliki nilai-nilai, agama dan dalam bernegara adalah nilai yang terkandung dalam Pancasila.

’’Kadang-kadang Pancasila ‘’didurhakai’’. Yang sakti itu adalah nilai-nilai agama dan ada di dalam Pancasila. Ini yang diangkat menjadi nilai kehidupan kita sebagai bangsa Indonesia,’’ kunci Ishak Ngeljaratan.

Alwy Rachman yang bertindak sebagai pemandu menimpali, marilah kita menjaga alam semesta ini demi menjaga tanah air. Dia menyebutkan kaitan antara kebudayaan dengan pohon. Pohon yang tumbuh dan kita pelihara bagaikan sebuah ‘’pohon kebudayaan’’.

Berbicara soal keadilan yang disinggung Ishak Ngeljaratan, Alwy Rachman mengatakan, keadilan itu mencakup masalah sosial dan ekonomi. Ada keadilan yang tidak bisa merespons keadaan alamiah, dan yang dapat dilakukan hanyalah memberikan kekhususan yang membutuhkan keadilan.

Kita beruntung ditakdirkan geografi, kebangsaan, dan agama. Agama langitnya dihormati, agama kebudayaan tidak. Menyikapi kondisi di kekinian berkaitan dengan masalah kebangsaan ini, Alwy RAchman menegaskan, Jakarta tidak dapat dijadikan panutan dalam berdemokrasi. Terjadi perang antarkita, antarsesama.

‘’Saya berharap Sulsel bisa menjadi panutan. Memang kita kita ditakdirkan beretnis-etnis dan manusia adalah mahluk paling unik dan usil,’’ pungkas Alwy Rachman.

Manusia disebut usil, karena sampai pada persoalan dirinya sendiri dipersoalkan dan diusili. Kadang-kadang, kata Alwy, kita dihadapkan pada pertanyaan yang melukai.  

Reuni mantan Mahasiswa Fakultas Sastra Unhas ini, kata Bachtiar Suparman selaku Sekretaris Panitia Kecil Reuni menggantikan Dr.Mardi Amin yang tidak sempat hadir  karena sedang berduka, memperlihatkan wajah  gembira dan penuh bahagia,yang setelah sekitar lebih dari 40 tahun tidak berjumpa. Begitu pun sahabat Willy F.Taneh dan Ellyn Rumintjap (yang sudah bersedia menyanyi), tiba-tiba berhalangan. Namun perhatian keduanya sangat diapresiasi oleh panitia kecil reuni.

Bachtiar pun mengirim doa kepada para almarhum/almarhumah dosen Fakultas Sastra Prof.Dr. Mattulada, Prof.Dr. Husen Abas,M.A., Drs. HD Mangemba, Drs. Ambo Gani, Prof.Dr. A. Rahman Rahim, Dr. Abu Hamid, Drs. Rahim Hamid,  Drs. J. Pakasi, Drs. Johan Nyompa, Dra. Marrang Parannoan Drs.J. Ruru, Drs. Ibnu Nandar, Prof. R.Suwondo, M.A., Drs. Jacob Syahbandar, Drs. Abd.Kadir B, Prof.Dr. Nurdin Yatim, Drs. M.Arif Said, Drs. Achmad Sahur, Drs. Idris Hambali, Prof.Dr.Abd. Kadir Manyambeang, Prof.Dr. Nadjamuddin, Demikian pula, sahabat-sahabat   kader unggulan Fakultas Sastra Unhas  almarhumah  Dr.Dra.Etty Bazergan, M.Ed. dan  almarhum Dr. Edward L.Poelinggomang, M.A.

Mereka yang hadir: Ibu Syairah Azis Taba (Angkatan I), Nannu Nur, Ishak Ngeljaratan (Angkatan II), M.Fahmy Syariff (?), Albert Irwanto (1970), Nunding Ram, Bachtiar Suparman (1971), Andi Budi Mustari, Suharningsih Sudaryo, Andjarwati Sadik, Nursiah Rauf, Latief Hasyim, M.Dahlan Abubakar (angkatan 1972) Abd. Madjid Djuraid, Fatimah Tawang, Andi Bimbing Muin, Rita Hartana, Bruce Saerang, Badrah Husain, M.Syafri Badaruddin,  Hamsinah Yasin, Nadira Mahaseng, Sitti Rabiah, Gusnawati, Sri Heriaty Winarni, Martinus Pagasing, Misail Pagala, David, Hakim Hanafi, Rosminah,  Hendarwati, Hj Nur Aeni Kasim, Nasruddin Budiman, dan Yudhistira Sukatanya.

Fatimah Tawang, Hendarwati, M.Safri Badaruddin, Bachtiar Suparman, dan Ery Iswari menyumbangkan suaranya, sementara diplomat kita, Mozes Tandung Lelating membawakan kesan-kesannya. Namun yang tidak kalah berkesan dalam reuni ini, Ibu Ira Azis Taba meski harus menggunakan kursi roda tidak mau ketinggalan bernostalgia dengan eks mahasiswa Fakultas Sastra Unhas yang lainnya. Demikian juga rekan David yang kondisinya tidak seperti beberapa tahun silam, meluangkan dirinya hadir dalam reuni ini.

Memang reuni kali ini tidak se-semarak yang dihelat alumni lain. Banyak juga alumni yang mengetahui adanya perhelatan ini, namun tidak sempat hadir, karena ada kesibukan lain yang tidak kalah pentingnya dengan pertemuan antarsesama teman se-almamater yang langka ini. (m.Dahlan Abubakar*)

Baca juga :