Forum MWA PTNBH se Indonesia Gelar Webinar Bahas Peran PT di masa Pandemi

27 Jun 2020 , admin-02 Akademik

Tangkapan layar Prof. Dr. Ir. K.H. Mohammad Nuh, DEA (Menteri Pendidikan Nasional RI 2009-2014, Ketua MWA ITS) saat memaparkan pandangannya dalam webinar, Sabtu (27/06).

Forum Majelis Wali Amanat (MWA) Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTNBH) Se-Indonesia menggelar Webinar bertema "Outlook Peran Perguruan Tinggi Menghadapi New Normal Pasca Pandemik Covid-19". Webinar dilaksanakan pada Sabtu (27/6), pada pukul 14.00 WITA melalui aplikasi Zoom.
 
Hadir sebagai narasumber adalah Prof. Dr. Drs. Pratikno, M. Soc. Sc (Menteri Sekretaris Negara RI, Ketua MWA UGM), dan Prof. Dr. Ir. K.H. Mohammad Nuh, DEA (Menteri Pendidikan Nasional RI 2009-2014, Ketua MWA ITS).
 
Bertindak sebagai moderator adalah Dr. Indrianty Sudirman, SE, M.Si (Sekretaris Forum MWA PTN-BH, Sekretaris Eksekutif MWA Unhas).  Seluruh 11 PTNBH yang tergabung dalam Forum MWA PTNBH Se-Indonesia hadir dalam webinar ini.
 
Pertemuan kali ini merupakan kegiatan kedua dari empat pertemuan yang diagendakan. Saat ini harus dilaksanakan secara virtual karena adanya pandemi Covid-19.
 
Mengawali acara ini, Ketua Forum MWA PTNB-BH, Komjen. Pol. (Purn,) Drs. Syafruddin, M.Si memberikan sambutannya. Beliau berharap pertemuan ini juga membahas tentang rekomendasi yang yang pernah disampaikan oleh forum Kemendikbud RI, agar pendidikan di Indonesia utamanya Perguruan Tinggi semakin maju.
 
Selanjutnya, moderator memberikan sedikit pengantar sebelum melanjutkan ke sesi utama. 
 
Prof. Pratikno sebagai pemateri pertama memaparkan tentang "Perguruan Tinggi Mengarungi Disrupsi dan Hiperkompetisi".
 
Menurut Prof. Pratikno, krisis sejak dulu mampu mendorong manusia untuk membuat inovasi-inovasi baru, dan membuka momentum sesuatu yang tidak bisa menjadi bisa. Hal ini juga terjadi di sektor pendidikan, misalnya e-learning yang lama tidak maju, tetapi ketika krisis menjadi sangat cepat bergerak.
 
"Kalau kita mau maju kedepan, berarti kita harus mampu menghadapi masa depan yang tidak dapat diprediksi, dan cepat melakukan adaptasi" tekan Prof. Pratikno.
 
Tantangan besar universitas saat ini adalah disrupsi dan kompetisi yang tinggi, karena saat ini perkembangan teknologi sangat maju dan sudah banyak orang yang sukses berkompetisi tanpa melalui Pendidikan Tinggi. Dalam kondisi ini, Perguruan Tinggi harus melakukan perubahan besar.
 
Menghadapi disrupsi dan hiperkompetisi ini, kata Pratikno, perguruan tinggi membutuhkan strategi yang tepat. Strategi yang paling utama adalah Fire Walking dengan langkah high speed (kecepatan tinggi/kelincahan), dan flexibility (fleksibiltas). Human capital dari Perguruan Tinggi juga harusnya in-out, karena hal ini penting untuk membentuk kultur, pengetahuan, dan karakter yg bisa dikembangan dengan cepat dan terbaru.
 
“Terdapat tiga aspek untuk menghadapi tantangan pendidikan saat ini, yaitu: People, yaitu pola pikir yang mengadopsi kebutuhan milenial; Business, yang mengikuti logika kanvas bisnis; dan Technology, yang mengadopsi digital, cloud, big data, dan sensor,” kata Pratikno.
 
Selain itu, kata Pratikno, Perguruan Tinggi harus memiliki kelincahan dalam aspek tata kelola keuangan, sumber daya manusia, pengambilan keputusan, serta inovasi dan kerjasama.
 
Pembicara lainnya, Prof. Mohammad Nuh memaparkan tentang "Belajar Memaknai Covid-19 dan Semoga Covid-19 Segera Berlalu". 
 
Wabah Covid-19, kata M. Nuh, merupakan kesempatan bagus melakukan kontemplasi pemikiran kritis, strategis, omni aspects dan utuh serta penuh kearifan untuk kepentingan bangsa dan negara.  Saat New Normal muncul pasti akan ada New Need lalu kemudian ada New Solusi, sehingga nantinya akan diciptakan solusi-solusi baru.
 
"Kita perlu melakukan transformasi dari 'aku' menjadi 'kita', yang dimana Perguruan Tinggi juga harus seperti itu," tekan beliau. 
 
Perguruan Tinggi harus menjadi solusi bukan menjadi bagian dari permasalahan, sehingga pada saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk Perguruan Tinggi khususnya PTN-BH untuk memberikan inspirasi-inspirasi agar persoalan tadi dapat diselesaikan. Kemudian, PTN-BH harus menjadikan Demographic Dividend dan Digital Dividend sebagai modal yang sangat mahal dan strategis untuk mempersiapkan kejayaan Indonesia 2045.
 
Prof. Nuh mengatakan bahwa New Normal pada gilirannya akan menjadi normal. Esensi pendidikan adalah belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi, belajar untuk hidup bersama, dan belajar untuk belajar. 
 
“Maka nantinya disinilah tercipta 'ke-kita-an', yang dimana Perguruan Tinggi tidak hanya memikirkan institusinya sendiri, atau hanya memikirkan aspek pendidikan, tetapi juga memberikan solusi untuk institusi, sektor, serta aspek kehidupan lainnya,” papar Prof. Nuh.
 
Tahapan-tahapan untuk Perguruan Tinggi lakukan yang dipaparkan oleh Prof. Nuh adalah; bagaimana merespon (respond) untuk tetap menjaga proses belajar mengajar tetap bertahan, bagaimana untuk memulihkan (recovery), dan bagaimana untuk maju dan berkembang (thrive).
 
"Yang paling penting saat ini adalah pada saat belajar dari rumah harus tetap terkoneksi dengan sumber pembelajaran, sehingga tidak terjadi looses in learning yang dapat mengakibatkan tingkat putus sekolah, kemiskinan belajar, pengerdilan dalam belajar, dan ketidaksamarataan,” kata Prof. Nuh.
 
Setelah para narasumber memaparkan materinya masing-masing, moderator kemudian membuka sesi tanya jawab dan diskusi. Diskusi berlangsung hangat hingga berakhirnya acara pada pukul 16.00 WIB.(*/els)
 
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR

Baca juga :