Departemen Ilmu Sejarah Membahas Perdagangan Teripang antara Tiongkok-Indonesia

4 Feb 2020 , admin-02 Akademik

Kuliah umum ditutup dengan foto bersama Guanmian Xu dan para peserta yang hadir, Selasa (04/02).

Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya Unhas menggelar kuliah umum yang menghadirkan Guanmian Xu, dari Leiden University, Belanda. Beliau membawakan topik “The Order of Sea Cucumber Chinese Gustatory Revolution and Eastern Indonesian Archipelago”. Kuliah Umum ini dilaksanakan di Ruang Senat Fakultas Ilmu Budaya, Selasa (04/02).
 
Guanmian Xu, yang merupakan kandidat doktor, memaparkan bahwa Teripang muncul sebagai komoditi primadona setelah kejayaan rempah pada abad ke-16 dan ke-17. Jaringan perdagangan Teripang masih berlangsung hingga sekarang. Hal ini dapat dilihat dengan masih bertahannya Teripang sebagai komoditas primadona yang secara mayoritas dikelola oleh para pedagang Cina. Pola perdagangannya juga masih sangat tertutup dan terkesan ekslusif. Beberapa jenis teripang yang diburu dan memiliki harga yang cukup tinggi adalah Teripang Koro dan Nenas.
 
“Teripang memiliki banyak khasiat, itulah mengapa komoditas ini menjadi primadona.  Melalui perdagangan teripang, Indonesia dan Tiongkok bisa membangun relasi,” jelas Xu.
 
Dosen Ilmu Sejarah Unhas, Andi Lili Evita S.S., M.Hum, menjelaskan bahwa materi kuliah umum ini membahas perspektif sejarah yang sangat menarik, yang mendorong antusiasme peserta yang hadir.  “Mahasiswa kami yang hadir tidak berhenti menyampaikan pertanyaan terkait topik kuliah,” kata Andi Lili.
 
Tujuan diadakannya kuliah umum dengan topik sejarah globalisasi perdagangan Indonesia Timur adalah untuk membangun jejaring penelitian dosen dan mahasiswa. Selain itu, kegiatan ini juga dalam rangka mewujudkan visi Departemen Ilmu Sejarah berbasis Maritim yang unggul di Asia Tenggara. 
 
Andi Lili berharap agar kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara kontinyu dan terus mendapat dukungan pimpinan universitas. Kuliah umum tentunya sangat berguna bagi pengembangan departemen khususnya untuk saling berbagi pengetahuan antara dosen dan mahasiswa lintas negara. 
 
“Harapan kami, dosen dan mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah dapat mengakses peluang akademik di negara lain, memiliki relasi yang kuat dalam bidang penelitian sejarah.  Dengan demikian nama Universitas Hasanuddin, khususnya Departemen Ilmu Sejarah juga dapat dikenal lebih luas lagi dan diterima di level internasional,” kata Andi Lili.
 
Departemen Ilmu Sejarah Unhas saat ini sedang mempersiapkan diri untuk assessment AUN QA 2021 mendatang.(*)
 
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR

Baca juga :