Departemen HI Unhas Bahas Satu Abad Musik Populer di Makassar

5 Mar 2020 , admin-02 Akademik

Diskusi tematik ditutup dengan foto bersama dengan peserta yang hadir, Jumat (05/03).

Laboratorium Hubungan Internasional (Lab HI) bersama Himpunan Mahasiswa Hubungan Internasional (HIMAHI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Hasanuddin menggelar diskusi tematik dalam platform yang disebut CHANGE (community engagement dialogue).  Kegiatan ini berlangsung di Ruang Senat Fakultas, Lantai 3, Gedung FISIP Unhas, Jum’at (5/3/2020).
 
CHANGE Vol. 1 kali ini membedah film dokumenter “Bunyi Kota: 100 Tahun Musik Populer di Makassar”. Hadir sebagai pemantik diskusi adalah Anwar Jimpe Rahman peneliti dari Komunitas Tanah Indie Makassar, yang sekaligus merupakan pembuat film ini.
 
Mengawali diskusi, Aswin Baharuddin, S.IP, M.Si selaku perwakilan Lab HI menjelaskan bahwa CHANGE merupakan platform diskusi yang disediakan oleh Lab HI atas usulan dari HIMAHI. Platform ini khusus membahas topik tematik yang menjadi minat mahasiswa atau komunitas.
 
“Kita ingin memberi banyak pilihan bagi aktivitas dan pengayaan akademik. Disini, tema, topik, dan nara sumber atau pemantik berasal sepenuhnya dari mahasiswa,” kata Aswin.
 
Anwar Jimpe Rahman memaparkan hasil penelitian sebagaimana ia tuangkan dalam film berdurasi sekitar 20 menit. Ini adalah pemutaran ke-9 kali yang ia lakukan kehadapan publik. Ia masih akan melakukan diseminasi langsung sebelum mempublikasi melalui platform internet.
 
Menurut Jimpe, perkembangan musik populer di Kota Makassar sebenarnya sudah sangat lama dan memiliki akar sejarah yang kuat.  Pada tahun 1920, di Makassar telah ada kelompok Band beraliran Jazz yang bernama Black and White.  Band ini dibentuk oleh sepupu dari W.R. Supratman, yang kita kenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya.
 
“Menariknya, W.R. Supratman sendiri beberapa kali tampil bersama Black and White, dimana ia memainkan violin,” kata Jimpe.
 
Pada dekade 1920-an itu, beberapa kemajuan terjadi di Kota Makassar, antara lain listri mulai digunakan. Hal ini turut mempengaruhi perkembangan musik populer di Kota Makassar.
 
“Perkembangan lainnya adalah pada dekade 1950-an, industri musik populer cukup maju di Kota Makassar. Orang-orang keturunan Tionghoa mempunyai peranan penting pada fase ini. Mereka selain mempunyai kelompok musik, mereka juga bergerak dalam bisnis penyewaan alat musik, membuat panggung pertunjukan musik dan lain-lain,” papar Jimpe.
 
Pada dekade paska reformasi, perkembangan musik populer di kota Makassar mengalami momentumnya. Kelompok musik Makassar tidak saja dikenal di tingkat nasional, bahkan internasional. Dua kelompok musik Makassar yang menyedot perhatian publik adalah Theory of Discoustic (atau yang populer disebut ToD) dan Kapal Udara.
 
“Bahkan, melalui album La Marupe’ kelompok musik TOD dinobatkan sebagai album musik terbaik dekade ini oleh vice.com, suatu portal musik yang prestisius di tanah air,” papar Jimpe.
 
Melihat perkembangan musik populer di Kota Makassar dalam 100 tahun terakhir, nampak bahwa kekuatan musik dan musisi telah ada sejak lama.  Musisi-musisi Indonesia banyak diwarnai oleh perkembangan musik di Makassar, seperti fakta bahwa W.R. Supratman ternyata bermain musik sejak di Makassar pada dekade 1920-an, jauh sebelum Indonesia Merdeka.
 
“Untuk itu, saya tidak lagi sepakat dengan penyebut musisi lokal Makassar. Musisi Makassar itu juga musisi nasional,” tutup Jimpe.
 
Diskusi yang diikuti sekitar 30 mahasiswa dan wakil komunitas ini berlangsung hingga pukul 16.00 Wita.(*)
 
Editor : Ishaq Rahman, AMIPR

Baca juga :