Buku

Unhas Diharapkan Jadi Contoh Kelola Kesehatan Mahasiswa

Universitas Hasanuddin merupakan perguruan tinggi negeri (PTN) pertama di Kawasan Timur Indonesia yang menandatangani nota kesepahaman dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan PTN ke-2 di Indonesia setelah IPB. Dengan langkah ini, BPJS Kesehatan mengharapkan Unhas menjadi ‘’role model’’ tentang bagaimana mengelola kesehatan mahasiswa.

Penandatanganan nota kesepahaman itu dilakukan Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu dengan Kepala Divisi Regional (Divre) IX BPJS Kesehatan Dwi Martiningsih, disaksikan Direktur Utama BPJS Prof.Dr.dr.Fachmi Idris,M.Kes, anggota Dewan Pengawas Latunreng  dan Direktur Pelayanan Maya Rosadi, di sela-sela pembukaan Konferensi Internasional Stem Cell di Hotel Clarion Makassar, Sabtu (28/5). Ikut juga menyaksikan sejumlah direktur rumah sakit di Indonesia yang hadir dan para Wakil Rektor Unhas, Kepala Dinas Kesehatan Sulsel, dan Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Sulsel.

Penandatanganan kerja sama ini, kata Dwia Aries Tina Pulubuhu, merupakan kehormatan bagi Unhas, bagi melayani BPJS Kesehatan para mahasiswa. Kerja sama dengan BPJS Kesehatan sebelumnya adalah dengan Rumah Sakit Unhas dan kini juga sedang mem-propose (mengusulkan) kerja sama BPJS dengan Rumah Sakit Gigit dan Mulut (RSGM) Unhas,

‘’Mohon restunya, kemarin sudah diskusi panjang dengan Dewan Direksi dan Kepala Divisi Regional, dan Insya Allah ada angin baik permohonan itu bisa diterima,’’ kata Dwia.

Yang paling membanggakan, kata Rektor Unhas, selain Unhas adalah para mahasiswa. Ini merupakan perhatian serius BPJS kepada para calon pemimpin bangsa, kader-kader, dan orang-orang terbaik bangsa masa depan. Dwia percaya, ini pengaruh dari Fachmi Idris sebagai salah seorang aktivis mahasiswa pada masanya.

‘’Siapa yang tidak kenal beliau kalau dia aktivis mahasiswa. Kalau aktivis menjadi pimpinannya, ada bukti nyata keberpihakannya,’’ puji Dwia sembari tersenyum ketika memberikan sambutannya yang disambut tepuk tangan yang hadir.

Unhas sangat ‘’care’’ kepada para mahasiswa dan memberikan tanggungjawab untuk menjadi pemimpin bangsa ke depan yang ‘’excellent’’ dengan karakter mereka sebagai insan cendekia, tetapi juga ‘’care’’ bahwa mereka secara secara fisik sehat dan secara psikis juga harus sehat. Inilah komitmen pemerintah melalui BPJS dan universitas.

‘’Mohon restunya semoga ini dapat berjalan dengan baik dan memberi kontribusi yang sangat signifikan dalam mempersiapkan kader-kader pemimpin bangsa yang baik, cerdas, dan sehat fisik dan psikis,’’ kunci Dwia sambil menambahkan, untuk melaksanakan pelaksanaan kesehatan dengan bermitra BPJS ini, Unhas akan membangun sistem yang baik. Sudah jelas prosedur, System Operation Prosedure(SOP).

Ke depan, kata Dwia, Unhas akan segera membangun klinik, yang dulu pernah ada. Poliklinik itu akan dibangun di dalam kampus, sehingga mahasiswa memiliki akses langsung jika mengalami sakit setelah itu baru dirujuk ke rumah sakit Unhas yang juga kelas B.

Dirut BPJS Kesehatan Fachmi Idris mengatakan, dengan penandatanganan ini jelas justru Rektor Unhas yang memperhatikan para mahasiswanya. Jumlah mahasiswa Unhas yang 30 ribu dijamin kesehatannya dengan program jaminan kesehatan nasional, BPJS. Jadi, ada kontribusi nasional dan ada kontribusi mahasiswa. Oleh sebab itu, Unhas harus bangga dapat memberikan kontribusi nasional melalui penjaminna kesehatan para mahasiswanya.

‘’Unhas diharapkan jadi contoh, role model, bagaimana mengelola kesehatan mahasiswa ini,’’ kata Dirut BPJS kelahiran Palembang 1 Februari 1968 tersebut.

Fahmi Idris memerintahkan kepada Kepala Cabang agar mendiskusikan dengan Unhas bagaimana meng-create (menciptakan) pengelolaan kesehatan mahasiswa menjadi model bagi universitas mana pun yang mendaftarkan mahasiswanya dan harus mencontoh di Unhas. Sebab, kata alumni FK Universitas Sriwijaya (1993) tersebut, program ini  dari dan untuk mahasiswa yang pendanaannya difasilitasi oleh rektor.

Pengelolaan kesehatan ini, bukan hanya mengobati pada saat sakit, melainkan juga berupaya bagaimana supaya tidak jatuh sakit. Jadi, ada upaya-upaya promotif preventif yang dilakukan oleh entitas pelayanan menjaga kesehatan mahasiswa.

;;Saya yakin Unhas punya poliklinik. Kalau rumah sakit, soal lain ,’’ kata lulusan Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat (1998)  dan Doktor UI (2003) tersebut.

Perkuat dulu dukungan antara fasilitas dukungan klinik pertama dengan mahasiswa Unhas. Jika kliniknya memenuhi syarat  tidak akan sulit. Klinik itu, kata Guru Besar Universitas Sriwijaya (2016) itu menjadiprovider-nya.  Klnik itu kalau lengkap, satu orang sistemnya, karena dunia kesehatan ini berubah radikal dengan system jaminan sosial kesehatannya.

‘’Fasilitas kesehatan pertama itu menggunakan paradigma sehat. Semakin banyak yang sehat, kliniknya semakin besar. Kalau dulu, semakin banyak yang sakit, kliniknya makin banyak. Sekarang makin banyak yang sehat, justru income-nya makin meningkat,’’ kata suami Dr.dr.Rini Purnamasari, Sp.A, ini.

Di negara-negara yang sudah maju, Jerman, Inggris, Belanda, mereka menganut sistem ini. Sebanyak 30 ribu mahasiswa didaftarkan di klinik Unhas dan dibayar per  bulan per kepala sekitar Rp 10 ribu. Jadi tiga puluh ribu (mahasiswa) setiap tanggal 10 tiap bulan, yuran mereka itu dikembalikan ke klinik, 30 ribu kali 10 ribu sama dengan Rp 300 juta.

‘’Jadi klinik menjadi advance. Uang sebanyak 300 juta itu untuk menjaga kesehatan mahasiswa. Kalau kemudian ada yang sakit, akan berupaya jangan sampai sakit. Memang ada langkah-langkah promotif dan preventif, misalnya klnik secara rutin mengadakan kegiatan olahraga bersama misalnya atau senam pagi bersama. Mahasiswa itu diajak berolahraga dengan dana kapitasi yang ada,’’ sebut Fachmi Idris.

Model ini, kata dia, kalau bisa dikembangkan di Unhas, akan menjadi contoh yang sangat baik bagi mahasiswa yang kesannya se;ama ini kurang menjaga kesehatannya, banyak yang merokok, justru kemudian didekati oleh pengelola klinik pada tingkat pertama. Sebab, kalau mahasiswa akan merokok terus, akan sakit. Kalau sakit datang ke klinik, dan diobati. Sehingga, mereka akan patuh membeli obat. Tentu, dalam batas-batas tertentu akan selesai di klinik tersebut.

Dalam keterangannya kepada Humas Unhas, Fachmi Idris menjelaskan, untuk Indonesia Timur, Unhas merupakan PTN pertama yang menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Di Indonesia bagian barat, ada IPB. Baru dua. (*).

FacebookTwitterGoogle+bagaikan