Meretas Empati yang Mati

BERITA on 29 May , 2015

Seminggu setelah kegiatan KKN Unhas gelombang 89 tema “tata lorong” berlangsung, warga lorong Bersih Tiga, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo melakukan pembenahan. Warga setempat menginisiasi perbaikan lorong yang di kenal dengan istilah Pak Kumis atau Padat, Kumuh dan Miskin itu secara sukarela. Dengan penuh keterbatasan mereka berjuang. Menata lorong, membangun peradaban kota.

Malam itu, lorong setapak yang tampak berpendar dengan pencahayaan yang minim dipersolek, Minggu (17/5). Beberapa warga memagari taman berukuran sekitar 150 meter yang memenuhi depan pemukimannya dengan peralatan seadanya. Mereka memanfaatkan bambu yang tak dipergunakan lagi. Ada yang diperoleh dengan memungut di pinggiran jalan, juga memintanya di penduduk setempat yang kebetulan tengah membangun.

            Suasana tersebut telah berlangsung selama tiga hari. Keseragaman dan kerapian tampak terasa, mengikis kesan kumuh yang ada. Semuanya dilakukan dengan penuh perjuangan, semata hanya untuk berbenah. Kendati mereka sesungguhnya juga memimpikan sebuah peradaban. Seperti slogan yang seringkali didengungkan akhir-akhir ini, “Tata Lorong Bangun Kota Dunia”.

            “Jadi saya juga tidak mau dikalah dari atas, karena ini paling dibawah jadi mestinya lebih dulu diperhatikan,” ujar Mahmud (57) yang ditemui disela-sela penataan lorong di jalan Bersih Tiga. Warga kelurahan pannampu ini, dikenal sebagai tokoh masyarakat, penggerak warga di lorong tersebut. Ia memimpikan ada keseragaman tampilan di wilayah yang dikenal sebagai “Pak Kumis” atau padat, kumuh dan miskin.

Pengerjaan lorong tersebut dilakukan dengan mencontohi dua lorong percontohan yang telah dibuat oleh mahasiswa KKN Unhas, yakni lorong di Jalan Indah Raya, dan lorong di Jalan Aman yang juga dikenal sebagai lorong “Pak Kumis” serta  beberapa lorong yang telah ditata oleh pihak pemerintah setempat. Namun, mewujudkan serupa yang telah dilakukan oleh pemerintah secara sukarela tidaklah mudah. Masalah finansial yang tak jarang menghambat.

Sebelumnya ia telah mengusahakan untuk meminta bantuan dana di PRK. Namun, informasi yang diterimanya bahwa tak ada bantuan dana yang disiapkan untuk penataan lorong. “Dia bilang tidak dibantu, yah yang penting jangan bohong,” ujarnya dengan nada menegaskan diujung pembicaraannya. “Yang penting kita jangan kalah dari jalan lain”, ucap Pria 57 tahun ini, serasa kata itu sangat akrab keluar dari ucapannya. Ia akan tetap berusaha untuk membeli cat walau hanya sedikit yang dapat dibagi-bagi.

Pengerjaan lorong ini menandakan bahwa seluruh lorong di RW 4 Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo telah secara serempak melakukan pembenahan. Penelusuran di wilayah tersebut telah dilakukan, dan nyatanya tampak keseragaman antar setiap lorong. Sepanjang jalan tak ada tumpukan sampah yang mencolok, taman-taman kecil disekitar rumah penduduk tertata rapi dengan pagar bambu berwarna merah hijau yang menghiasi, juga bibir jalan yang dipersolek dengan berbagai warna.

Menolak Keras

           Semangat dalam diri warga lorong aman, dan lorong bersih tiga yang dikenal dengan wilayah “Pak Kumis” ini tak serta merta hadir begitu saja. Proses panjang untuk menanamkan semangat dan empati dalam diri warga. Sebab jauh sebelum pelaksanaan KKN ini berakhir, berbagai elemen masyarakat khususnya di jalan Aman menolak keras kehadiran mahasiswa yang akan melakukan pembenahan di lokasi yang menjadi salah satu lorong percontohannya.

            “Masyarakat berfikir begini, pemerintah saja sudah hampir 20 tahun tidak pernah turun ke masyarakat,” ungkap Zulkifli, Koordinator Kecamatan Tallo, Selasa (12/5). Masyarakat merasa antipati dengan keinginan dan kemampuan anak mahasiswa untuk bekerja, sebab pemerintah pun tidak mampu untuk membenahi wilayah tersebut. Usut punya usut, ada kecemburuan sosial yang tertanam dibenak masyarakat sebab pemerintah setempat hanya memperhatikan wilayah yang sudah baik.

 “Kalau mau memimpin kita yah tolong bagaimana bisa disamakan juga dengan sekitar kantor lurah dan yang lain,” ungkapnya. Menurutnya, selama ini masyarakat hanya butuh pemimpin yang dapat memperhatikan masyarakat kecil. Hal itu dirasakan mengingat berbagai perlombaan yang diselenggarakan tidak pernah melibatkan kedua wilayah itu. Sementara Kelurahan Pannampu seringkali mewakili perlombaan baik tingkat kecamatan maupun kota.

            Salah satu warga Jalan Bersih Tiga mengutarakan hal yang serupa. Dia menuturkan bahwa warga sebetulnya sangatlah kompak dan tidak diragukan untuk bergotong royong berbenah lorong. Namun, rasa kekompakan itu hanya mencuat melalui rasa kecemburuan sosial dan antipati. “Kompak jeki semua disini, cuma tidak ada pemimpin yang aturki. Baru disitu terus ji dia kerja,” ucapnya sambil menunjuk ke wilayah lain. Ia lantas menyebut satu persatu warga yang sering berpartisipasi membawa makanan ketika mereka sedang bekerja bakti.

            Mengubah rasa kekompakan itu untuk hal yang positif tentulah tidak mudah. Berbagai usaha yang dilakukan untuk menumbuhkan rasa empati akan wilayahnya sendiri. Pendekatan secara personal dilakukan secara berulang-ulang guna mengambil Mahmud yang sangat disegani oleh warga sekitar. “Sangat susah diambil hatinya Pak Mahmud, orangnya keras dan sangat teguh pada pendiriannya yang menolak mahasiswa,” tutur Mahasiswa Jurusan Pemerintahan angkatan 2011 ini.

            Setelah dilakukan pendekatan personal dan mengadakan kerja bakti yang melibatkan lurah, kapolsek, camat, RW, pihak UPT KKN Unhas, dan berbagai pihak disektor pemerintahan sekitar, barulah kepercayaan masyarakat tumbuh. Empati yang telah mati, berbuah menjadi perjuangan tanpa pamrih.(Risky Wulandari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>