Terapi Radio Aktif

24 Jun 2016 , humas01 Pengabdian Masyarakat

Dokter Suherman Hadi Saputra, Sp.Onk.Rad. menjelaskan proses kerja alat terapi memanfaatkan radio aktif di RS Unhas. (Foto:mda).

Saat rombongan Wakil Gubernur Provinsi Gorontalo Dr.Drs. Idris Rahim M.M, mengunjungi Rumah Sakit Unhas, 17 Juni 2016, alat terapi radio aktif iridium memanfaatkan teknologi nuklir, diperlihatkan kepada yang hadir. Alat ini sangat terjaga dan bebas dari interaksi dengan publik.

Ketika rombongan Wagub Gorontalo yang disertai Sekprov Gorontalo Prof.Dr.Ir.Winarni Monoarfa, M.S. dan diantar langsung Rektor Unhas Prof.Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A., sedang menjalani terapi salah seorang pasien. Dokter spesialis onkologi Suherman Hadi Saputra menjelaskan kepada yang hadir mengenai mechanisme kerja alat buatan Jerman  ini (gambar).

Melengkapi posisinya sebagai pusat kanker di Indonesia, Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (RS Unhas) memperkenalkan alat ‘’Brachy Therapy (BT) buatan Jerman guna mengobati penyakit kanker dengan memanfaatkan radiasi nuklir. Radiasi itu diinjeksi ke dalam jaringan kanker dengan dosis yang disesuaikan dengan besar kankernya.

‘’Kekuataannya lebih besar. Sistem kerjanya bersumber dari radiasi yang ditembakkan ke sel-sel kanker menggunakan radio aktif iridium dengan teknik tiga dimensi,’’ kata dr.Suherman Hadi Saputra, Sp.Onk.Rad., salah seorang dokter spesialis onkologi radiologi RS Unhas, didampingi Dirut RS Unhas Dr.dr.Andi Fachruddin Benyamin, Sp.PD, KHOM, ketika ditemui di RS Unhas, Selasa (14/6).

Penggunaan BT ini termasuk langka di Indonesia. Tumor yang ada di dalam tubuh manusia ditembakkan radio aktif iridium dengan kekuatan 10 Linac. Hingga sekarang, Linac itu digunakan menangani kanker serviks. Di Sulawesi Selatan, berdasarkan data yang ada, kebanyakan terdapat pasien dengan kepala leher. Kanker ini disebabkan virus yang dirangsang oleh pola makan. Selain itu, juga ada kanker payudara, kanker paru, dan kanker usus.

Menurut Suherman, BT paling cocok untuk kanker serviks dan cocok untuk golongan sarcoma, yakni tumor-tumor yang terjadi pada jaringan ikat (otot). BT ini diindikasikan bagi pasien yang membutuhkan pengobatan dengan dosis tinggi (high dose) dan lebih simple. Di Indonesia yang sudah menggunakan alat ini selain RS Unhas, juga RS Sutomo Surabaya, dan Siloam Jakarta. (*).

 

 

Baca juga :