''Rusa Kawin?, Saya Tidak Lihat 'Ki''

22 Jun 2016 , humas01 Informasi Mahasiswa

Rusa-rusa Unhas (Foto:mda)

Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2016, saya bersama beberapa teman menyambangi kandang rusa di sebelah kiri pintu I Unhas. Kunjungan ini tidak boleh dianggap main-main. Ini ‘kunjungan akademis’. Pasalnya, ‘lawatan’ ini merupakan rangkaian tugas ‘Penulisan Kreatif’ yang diberikan oleh salah seorang dosen sebagai pengganti final. Dosen kami memilih objek penulisan rusa, karena menghindari mahasiswa main  ‘’copas’’ (copy paste), jika bukan objek nyata di lapangan.

Setelah kuliah, pukul 09.50 saya ‘’tancap gas’’ ke kandang rusa. Begitu tiba, saya sempat kecewa, karena petugas yang khusus berurusan dengan rusa Unhas sedang tidak berada di tempat.

‘’Dia sedang ada kesibukan lain,’’ kata salah seorang anggota Satpam Unhas yang duduk di Pos I Unhas.

‘’Kalian kembali saja nanti sore, karena biasanya dia akan datang memberi makan rusa,’’ sambung anggota Satpam itu lagi berusaha menghibur saya dan teman-teman, meski tetap saja tebersit rasa kecewa.

Saya berjanji akan kembali lagi pukul 17.00.

‘’Mungkin pada jam itu petugasnya sudah ada,’’ kata saya memberi semangat kepada teman-teman yang tampak lesu karena narasumber yang dicari tidak ada.

Kami kembali ke pos masing-masing dengan tangan dan kertas kosong. Tidak ada petugas yang dicari dan kertas yang dibawa pun belum satu kata pun terisi.

Pada pukul 16.00 ternyata masih ada satu mata kuliah, yakni ‘’Telaah Prosa’’. Agenda kuliah ini baru usai pukul 17.30. Saya sempat juga galau, karena khawatir petugasnya sudah pulang lagi. Sempat juga berpikir untuk melanjutkannya besok petang saja.

‘’Soalnya hari sudah menjelang gelap, malam,’’ salah seorang teman saya memberitahu.

‘’Terserah, yang penting kita harus menyelesaikan wawancaranya besok sore kalau tidak ada halangan. Minta tolong jemput aku, yaaahh,’’ kata saya dengan sedikit rasa kecewa yang tentu saja kedua kalinya.

‘’OK, kita besok ke kandang rusa pukul 16.00. Jangan sampai terlambat,’’ salah seorang teman mengingatkan.

Saya sangat antusias pergi ke sana (kandang rusa), karena sangat membutuhkan informasi tentang rusa-rusa itu untuk membuat sebuah cerita yang juga merupakan tugas akhir mata kuliah ‘’Penulisan Kreatif’’.

Keesokan harinya, 22 Mei 2016, pukul 15.40, Mia, salah seorang teman saya, sudah datang menjemput. Saya pergi dengan dia. Se-sampai di Pos 1 yang hari sebelumnya kami tandangi, ternyata petugas yang kami cari dua hari sebelumnya belum nongol.

‘’Maaf, Dek. Petugasnya belum datang,’’ salah seorang Satpam yang menyambut kami memberitahu.

‘’Loh..ini kan sudah pukul 16.00, kok belum datang, Pak?;’’ kata saya bernada ‘’protes’’ kecil.

‘’Maaf, Dek, mungkin petugasnya masih dalam perjalanan. Adek tunggu saja di sini,’’ Satpam itu menyarankan.

Kami pun duduk dengan muka lesu dan kecewa.

‘’Memangnya Adek mau bertanya tentang apa?. Mungkin bapak bisa jawab sedikit,’’ tiba-tiba Satpam itu bertanya balik.

‘’Hanya beberapa pertanyaan tentang rusa, Pak,’’ kata saya.

‘’Mungkin Bapak bisa menjawabnya, tetapi kurang tahu segalanya,’’ kata Satpam itu lagi

‘’Oh..tidak apa-apa, Pak,’’ kata saya dengan sedikit rasa kecewa yang sedikit terobati.

Pak Satpam itu kelihatannya sangat baik. Mungkin ia kasihan melihat kami bolak-balik ke kandang rusa. Bapak Satpam yang baik hati ini, namanya Salman. Posnya di Pos Pintu 1 Unhas.

Kami pun satu demi satu mengajukan pertanyaan dengan memanfaatkan ponsel sebagai perekam. Tentu saja yang pertama saya tanyakan adalah nama Pak Satpam itu sendiri.

‘’Kalau boleh tahu, siapa nama Bapak?’’.

‘’Apa perlu menyebutkan nama,’’ jawabnya dengan tersenyum.

‘’Tentu, Pak,’’ salah seorang teman saya tiba-tiba menjawab segera.

‘’Nama saya Salman,’’ sahutnya.

‘’Berapa jumlah rusa di sini, Pak,’’ tanya saya.

‘’Saat ini jumlahnya 32 ekor, 18 jantan, dan 14 betina. Yang kecil itu belum kami tahu jantan atau betina,’’ imbuh Pak Salman.

‘’Berapa jumlah rusa saat pertama tiba di sini, Pak,’’ saya bertanya lagi.

‘’Hmm… kira-kira jumlahnya ada 15 ekor yang dibawa dari Bogor,’’ sebut Pak Salman.

‘’Kapan kira-kira musim kawin rusa-rusa ini, Pak?,’’ kejar salah seorang teman saya.

‘’Aku juga kurang tahu, karena saya tidak lihat ki,’’ kata Salman dengan tertawa.

‘’Bagaimana kita membedakan rusa jantan dan betina, Pak?’’.

‘’Kamu bisa lihat tanduknya, itu berarti jenis kelamin jantan. Sebaliknya (tidak bertanduk), rusa betina,’’ Salman menjelaskan.

‘’Apakah ada yang sudah mati selama rusa-rusa itu di sini, Pak?’’.

‘’Iya. Yang sudah mati ada lima ekor. Penyebabnya, karena keracunan. Juga ditanduk (diseruduk) oleh rusa lain dan karena masalah pencernaan,’’ papar Salman.

‘’Tidak ada ji, karena patah hari, Pak,’’ seorang teman saya bertanya dengan canda yang membuat kami tertawa bareng. Pak Salman tidak menjawab pertanyaan ini dan hanya menjelaskan, kalau rusa itu sehari, dua kali makan. Pak Salman menjelaskan, sehari rusa-rusa itu menghabiskan empat karung wortel dan kangkung. Kedua jenis hortikultura inilah makanan utamanya. Satpam tidak pernah memberi rusa-rusa itu makanan lain selama ini, selama mereka itu masih menyukainya.

Salman tidak tahu ketika kami tanyakan biaya yang diperlukan untuk memberi makan rusa-rusa itu. Yang jelas, kalau ada makanannya Satpam memberinya makan dan itu jadwalnya teratur.

Kami juga menanyakan, apakah rusa-rusa itu juga mandi. Salman menjelaskan, rusa-rusa itu mandi sendiri di danau. Tentu tanpa disuruh.

‘’Tidak dibersihkan?’’.

‘’Tidaklah. Siapa yang mau dan berani pegang rusa-rusa itu. Nanti kita ditanduk,’’ canda Pak Salman.

‘’Apakah ada suara khusus jika ingin memanggil rusa-rusa itu akan diberi makan?’’  

 ‘’Iya ada. Tetapi saya tidak tahu. Hanya petugasnya yang tahu. Ia mengeluarkan bunyi dari mulutnya apabila ingin memanggil rusa-rusa itu,’’ cerita Salman.

‘’Di mana biasanya rusa-rusa itu tidur”,’’ kami tidak bosan-bosan menyampaikan rasa ingin tahu, mengeroyok Pak Salman dengan pertanyaan.

‘’Rusa-rusa itu tidur di kandang khusus. Biasa juga di bawah pohon,’’ sebut Salman.’

‘’Tahun berapa kira-kira rusa ini dibawa ke Unhas?’’.

‘’Kira-kira tahun 2008’’.

‘’Biasanya rusa-rusa itu minum di mana, Pak?’’.

‘’Biasanya minum di danau. Tetapi sudah ada kami sediakan dua baskom besar berisi air minumnya,’’ kisah Salman.

‘’Tidak minum coca cola atau apalah, Pak,’’ salah seorang teman saya ‘’menggombali’’ Pak Salman dengan pertanyaan aneh-aneh.

‘’Iya, bisa juga. Tetapi bawakan juga penjaga dan Satpamnya, nah!,’’ sahut Salman dengan tidak kalah bercanda.

‘’Berapa lama kira-kira rusa betina ini apabila mengandung sampai melahirkan?’’.

‘’Lama rusa itu mengandung sama dengan waktu yang diperlukan manusia mengandung. Kira-kira 9 bulan 10 hari dengan hanya satu ekor bayi rusa dan tidak pernah lebih dari satu ekor,’’ Salman menjelaskan.

‘’Apa-apa saja kelakuan aneh rusa-rusa ini, Pak?’’.

‘’Kelakuan aneh?. Biasanya, mereka serentak mengangkat kepala apabila sedang kaget dengan mendengar suara-suara yang belum pernah didengarnya. Atau ada banyak biawak yang dilihatnya. Itu saja,’’ kata Salman.

‘’Bagaimana kita mengetahui jika rusa-rusa itu sedang sakit?,’’ saya mengajukan pertanyaan terakhir.

Salman menjawab,’’ jika sakit, rusa-rusa itu lesu dan hanya duduk, malas makan, juga seperti manusia’’.

‘’OK, mungkin itu saja, Pak. Terima kasih banyak atas informasinya,’’ kata kami hamper bersamaan.

‘’Iya, sama-sama. Kalau ke sini bawa kue, nahh,’’ Pak Salman  pun membalas dengan tertawa.

Usai wawancara, kami mengambil gambar rusa-rusa itu sebagai bukti bahwa kami telah melakukan wawancara. Rusa-rusa itu berkumpul. Mungkin menyangka akan diberi makan. Kami lupa membawakan mereka makanan. Padahal biasanya saya sering membawa roti. Muncul dalam benak saya beranda-andai,’’ Seandainya rusa-rusa itu saja yang kami wawancarai, mungkin akan memperoleh informasi yang akurat’’. Kami pun pulang dan kertas kosong dua hari sebelumnya kini sudah terisi.

(Penulis, Aisyah R, Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya).  

      

 

Baca juga :