Rumah Sakit Pendidikan Unhas Proses Akreditasi

11 Apr 2017 , admin00 Pengabdian Masyarakat

Rektor UNHAS foto bersama jajaran Pimpinan dan Staf Rumas Sakit Pendidikan Unhas dan tim surveior KARS. (Foto: istimewa)

Tim surveior dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang terdiri atas dr. Tri Hastuti, MS, Sp.OK (Surveior Manajemen), dr. Adhi Midjaja, SP.A, M.Kes (Surveior Medis), dan Sulikah, S.Kp, M.Kes (Surveior Keperawatan).  Para surveior akan memotret kondisi aktual pelayanan medis dan kesehatan Rumah Sakit Unhas selama 3 hari, 11 – 13 April 2017.

Acara pembukaan akreditasi yang berlangsung di Aula Rumah Sakit Unhas (Selasa, 11 April 2017 pukul 08.00 WITA) dihadiri oleh Rektor Unhas (Prof. Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA), Dekan Fakultas Kedokteran Unhas (Prof. Dr. dr. Andi Asadul Islam, Sp.BS, FICS), Direktur Utama Rumah Sakit Unhas (Dr. dr. Andi Fachruddin Benyamin, Sp.PD, KHOM), Wakil Rektor Bidang Inovasi dan Kerja Sama (Prof. dr. Budu, Ph.D), dan Sekretaris Universitas (Dr. Ir. Nasaruddin Salam, MT).

Turut hadir pula Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas yang sekaligus merupakan inisiator berdirinya Rumah Sakit Unhas (Prof. Dr. dr. Idrus Paturusi, Sp.OB) dan Dewan Pengawas Rumah Sakit Unhas (Prof. Dr.dr. Irawan Yusuf, Ph.D).

Dalam sambutannya, Prof. Dwia menjelaskan bahwa Rumah Sakit Unhas sekarang ini telah mencapai tahapan kemajuan yang cukup signifikan, terutama jika dibandingkan dengan beberapa Rumah Sakit Pendidikan.  “Ketika kita mendirikan Rumah Sakit ini, pendanaan kita sangat terbatas, terutama jika dibandingkan dengan perguruan tinggi lain. Namun kini, kita justru menjadi percontohan di tingkat nasional,” kata Prof. Dwia.

Setelah beroperasi selama 7 tahun, kini Rumah Sakit Unhas telah siap untuk dipotret sebagai rumah sakit mandiri.  Kini terdapat 240 dokter spesialis di Rumah Sakit Unhas.  Ada yang direkrut khusus sebagai dokter rumah sakit, tetapi sebagian besar adalah dokter-dokter yang juga berstatus dosen Unhas.
“Kekuatan kami adalah kolaborasi dan kekompakan.  Kita berkolaborasi dengan Rumah Sakit Regional Wahidin Sudirohusodo dan Rumah Sakit lainnya untuk pengembangan dan pelayanan”, Prof. Dwia menjelaskan.

Sementara itu, dalam sambutannya Prof. Idrus Paturusi mengisahkan asal mula berdirinya Rumah Sakit Unhas. “Waktu itu sekitar tahun 2005, saya usul kepada Wapres JK agar kita membuat kampus pendidikan.  Wapres mengira bahwa beberapa rumah sakit yang terletak di dekat kampus seperti RSCM di Jakarta itu adalah Rumah Sakit Pendidikan.  Ketika saya jelaskan bahwa itu bukan milik kampus,” kenang Prof. Idrus.

“Pak JK kemudian memeriksa status rumah sakit-rumah sakit tersebut.  Ketika tahu bahwa betul itu bukan milik kampus, beliau kemudian memerintahkan agar kita mendirikan Rumah Sakit yang dimiliki oleh kampus,” lanjut Prof. Idrus.

Dalam pengantarnya, dr. Tri Hastuti, MS, Sp.OK yang mewakili tim surveior Komisi Akreditasi Rumah Sakit mengatakan bahwa kehadiran mereka selama 3 hari di Rumah Sakit Unhas akan fokus melakukan pemotretan kondisi aktual pelayanan medis dan aspek manajemen.  “Jadi kehadiran kami disini bukan untuk menghakimi, tapi mengamati proses dan praktek yang berlangsung selama ini”.  Tegas dr. Tri Hastuti.(*)
 

Baca juga :