Prof.Dr.H.Abd.Rakhman Laba, S.E.,MBA: Ketergantungan Modal Asing Bawa Krisis Keuangan

31 Oct 2016 , Humas01 Press Release

Ketergantungan suatu negara terhadap modal asing akan membawa krisis keuangan yang berkelanjutan. Pasalnya, proses pembelajaran kemandirian keuangan dan disiplin menjadi sangat lemah, Dampaknya akan mengikis daya saing komoditas ekspor.

‘’Jika ini tidak dapat dicegah, maka penjajahan di bidang ekonomi akan berdampak jauh pada tatanan daya saing pelaku daya saing usaha dan merusak kemampuan keuangan,’’ kata Prof.Dr.Abd.Rakhman Laba, S.E., MBA ketika menyampaikan orasi ilmiah penerimaan jabatan Guru Besar tetap dalam Bidang Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas, Senin (31/10/2016).

Pria kelahiran BulloE Jeneponto 25 Januari 1963 ini mengatakan, kemampuan keuangan sebaiknya didukung dengan keberpihakan kebijakan pemerintah dan bank pelaksana kredit ekspor guna tetap memberikan bunga kredit yang terjangka demi mempertahankan kemampuan keuangan pelaku usaha ekspor.

‘’Belajar dari banyak kasus pertumbuhan ekonomi yang tinggi, kebijakan keuangan pemerintahnya memang sangat mendukung bagi pelaku usaha ekspor-impor,’’ ayah tiga anak (istri Rosmawati Yusuf) yang menyelesaikan pendidikan doktornya (2005) di Southern Cross University, Australia tersebut membeberkan.

Khusus di Sulawesi Selatan, kata anak pasangan Laba Tamanroya-Nasi Nova ini, tidak terlihat adanya kebijakan yang spesifik dapat menaikkan kinerja ekpor, karena pemerintah daerah hanya mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah pusat dalam mendukung kinerja ekspor. Tetapi, kadang-kadang pemerintah daerah berpikir terlalu pragmatis mengejar pendapatan asli daerah (PAD). Akibatnya, retribusi angkutan produk ekspor pada cek poin antarkabupaten ikut berpengaruh terhadap harga komoditas yang menjadi andalan ekspor.

‘’Akibatnya,  harga pokok produk ekspor Sulsel lebih tinggi dari harga pokok ekspor negara lain,’’ ujarnya, dalam orasi bertajuk ‘’Financial Catasrophy: Kanalisasi Modal Asing, Dampaknya terhadap Kemampuan Keuangan Indonesia’’. dan menambahkanm  akibat harga produk ekspor Sulsel yang tinggi itu, jelas akan berpengaruh terhadap daya saing dan harga jual di pasar luar negeri.

Kebijakan atas alokasi investasi asing di Sulsel yang didasarkan atas natural resource base (potensi sumber daya alam), kata lulusan Unhas 1988 ini, telah memunculkan titik pertumbuhan ekonomi antardaerah, sekaligus juga melahirkan persaingan se-sama pemerintah daerah dalam mengejar kerjsama dengan pengusaha luar negeri. Tanpa disadari, ada beberapa produk yang jika ditiru oleh investor baru akan mematikan industri ekspor yang sudah ada. Ia mencontohkan, salah satu perusahaan di Kabupaten Barru yang menjual komoditas hasil olahan ke luar negeri dalam beberapa tahun terakhir telah menghentikan produksinya sebagai dampak dari keterbatasan bahan baku yang mengandalkan nelayan sebagai pemasoknya. Setelah berjuang meyakinkan pasar luar negeri, perusahaan ini dapat beroperasi kembali.

Rakhman Laba menyimpulkan dalam orasi ilmiahnya, Sulawesi Selatan harus banyak berbenah diri  menghadapi serbuan perusahaan asing yang terkadang berlindung di balik program Corporate Social Responsibilty (CSR) atau program green community, padahal misi monopoli terselimut dengan program tersebut. Banyak perusahaan asing yang berpura-pura (intention) sebagai perusahaan yang pro lingkungan, padahal di balik itu semua hanya ingin menguasai sumber daya nasional.

‘’Pemerintah di Sulsel harus membuka mata pada Wakatobi dengan berselimut  konservasi laut, banyak pengelola resort dari Jerman yang menggeser kehidupan suku Bajo yang selalu berteriak ‘’kembalikan lautku’’,’’ kunci Rahkman Laba yang mencatatkan diri sebagai guru besar ke-351 Universitas Hasanuddin yang sudah menyampaikan orasi penerimaan jabatan guru besar.

Orasi penerimaan jabatan tersebut dihadiri Rektor Unhas Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. yang menilai orasi Prof. Rakhman Laba ini sangat relevan dengan kebijakan pemerintah saat ini yang menghamparkan ‘’karpet merah’’ bagi masuknya investor asing ke Indonesia. Bahkan Rektor Unhas mendorong Prof. Rakhman Laba menyampaikan buah pikiran kepada pemerintah berkaitan dengan isi orasinya ini.

Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas Prof.Dr.Basri Hasanuddin, M.A. yang duduk berdampingan dengan Konsul Australia di Makassar Richard Mathius. Orasi penerimaan jabatan tersebut berlangsung dalam rapat Senat Akademik Terbuka Unhas dipimpin Ketua Senat Akademik Prof.Dr.M.Tahir Kasnawi, SU, dan dihadiri Ketua Dewan Profesor Prof.Dr.Ir.Abrar Saleng, S.H., M,H. Tampak di tengah undangan Prof.Dr.Baso Amang, M.Si (Rektor UIT) dan Prof.Dr.Bahaking Rama, M.Si, (mantan Pembantu Rektor III UIN Alauddin Makassar).  

Biodata:

Nama                                     :Prof.Dr.H.Abdul Rakhman Laba, s.e., mba

Tempat/tgl lahir         : BulloE, Jeneponto 25 Januari 1963

Pangkat/Golongan  : :Lektor Kepala/Iv/a

Istri                              : Rahmawati Yusuf

Anak                           : Anggie Puteri, Ariel Kenchana, dan Arlan Manrapi

Orangtua                   :Laba Tamanroya-Nasi Nova

Pendidikan formal   : SDN Gantinga Jeneponto (1975), SMPN Paitana Jeneponto

 (1978), SMAN Jeneponto (1982), S-1 FE Unhas (1988), Master

 Business Administration (MBA) University of Canberra, Australia (1994), dan Doctor of Business Administration (DBA) Saouthern Cross University, Australia (2005).

Sebagai dosen FEUH: Sejak 1989 – sekarang

Jabatan.                     :Dosen Program MM Unhas 1994-sekarang, Dosen Program S-3

 Ilmu Ekonomi Unhas 2003- sekarang. (*).

Baca juga :