Prof. Marsuki: Peran Perbankan Masih Terbatas dalam Menggerakkan Sektor Riil

21 Mar 2017 , Humas02 Seremonial

Prof.Dr. Marsuki, DEA, Guru Besar Unhas Bidang Ekonomi Moneter dan Perbankan (Foto: Humas)

Peran perbankan di Indonesia belum optimal dalam menggerakkan sektor riil, hal tersebut disebabkan karena perbankan belum memainkan peran intermediasinya secara optimal di dalam perbankan nasional.  Hal tersebut diungkapakan Prof.Dr. Marsuki, DEA dalam orasinya bertajuk Restrukturisasi Kebijakan Moneter dan Keuangan Dalam Transisi Sistem Ekonomi dan Keuangan Indonesia di Ruang Senat Universitas Hasanuddin, Selasa (21/3).

“Jika diukur dari rasio kredit perbankan terhadap PDB Nasional, hanya berkisar 34,9%, angka paling rendah di Asean.  Bandingkan dengan Singapura yang rasionya 294,5%. Perbankan kita sangat jauh tertinggal,” tulis pengamat ekonomi Unhas ini.  Parahnya lagi, lanjut Guru Besar Unhas ke-359 ini, perbankan merupakan sektor yang memiliki keuntungan terbesar sekaligus terboros di negara-negara Asean maupun Asia.

Alumni Universite Nice Sophia Antipolis Prancis ini menduga, Bank Indonesia selama ini melakukan kekeliruan di dalam memilih pendekatan ekonomi moneter yang dijadikan dasar di dalam mengeluarkan kebijakan moneter dalam 20 tahun terakhir.  “BI lebih memilih pendekatan money view dalam melaksanakan kebijakan moneternya, padahal strategi tersebut hanya bisa dilaksanakan di negara yang struktur karekter perekonomiannya sudah maju yang ditandai dengan telah sempurnanya informasi dan rasionalnya para pelaku ekonomi,” papar Marsuki di depan Rapat Senat Universitas yang dipimpin Prof.Dr. Tahir Kasnawi, SU.

Rektor Unhas Prof.Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, MA menilai Prof.Dr. Marsuki, DEA sebagai salah seorang guru besar Unhas yang berprestasi dan memiliki kapasitas. Karena itu, Dwia mengharapkan agar setelah pengukuhan ini agar bisa berkiprah di level nasional.  “Kita ikhlaskanlah jika setelah pengukuhan ini Prof. Marsuki mau terbang ke mana-mana agar adalagi dosen yang mengharumkan nama Unhas,” ujar Rektor. (**) 

Baca juga :