Perhatikan Sumber Daya, Jangan Hanya Urus Politik

13 Feb 2017 , Humas01 Akademik

 

Gubernur Jawa Timur Dr.H.Soekarwo mengingatkan  para kepala daerah hendaknya lebih banyak memperhatikan sumber daya daerah dan rakyatnya, dan tidak justru sebaliknya lebih banyak mengurus politik. Sebab, semua negara sepakat bahwa tujuan berbangsa dan bernegara adalah menyejahterakan rakyatnya.

‘’Tidak ada pertumbuhan ekonomi bagus jika pertumbuhan demografinya tidak bagus. Pertumbuhan demografi (penduduk) Jawa Timur saat ini 0,61%, lebih rendah dibandingkan Jawa Barat yang mencapai 1,60%,’’ ujar Soekarwo dalam kuliah umum di Ruang Senat Unhas Kampus Tamalanrea, Senin (13/2) yang dihadiri para dosen dan mahasiswa serta sejumlah karyawan Pemprov Sulsel. 

Mengambil judul ‘’Strategi memperkuat stabilitas pembiayaan pembangunan menghadapi dinamika ekonomi global,’’ dalam kuliah umum yang dihadiri Rektor Unhas Prof.Dr. Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. dan Ketua Majelis Wali Amanat (MWA) Unhas Prof.Dr.Basri Hasanuddin, M.A., Soekarwo menjelaskan, dinamika ekonomi global dipengaruhi oleh perkembangan Bank Sentral Amerika. Saat ini pengaruh itu juga ikut ditimpali oleh  Presiden Donald Trump yang rada aneh dan lucu, sehingga perkembangan ekonomi itu sangat ditentukan oleh persepsi dan asumsi.

Bagi Indonesia, khususnya Jawa Timur, kata Soekarwo, pertumbuhan industri masih di bawah rata-rata. Jika pertumbuhan industri di bawah rata-rata, kita kelak hanya bisa menjadi pedagang,

‘’Sekitar 79% bahan produksi Jawa Timur itu bersumber dari impor,’’ ujar pria kelahiran Madiun 16 Juni 1950 ini.

Menurut lulusan doktor Undip Semarang (2004) ini, dalam jangka panjang kurang bagus jika pendapatan domestik bruto (PDRB) ‘’dikuasai’’ Pulau Jawa yang kini sudah mencapai 58%. Tol laut yang digagas Presiden Joko Widodo hendaknya harus diikuti dengan pembangunan hinterland Indonesia bagian Timur. Misalnya, komoditas yang ada di Sorong, Papua Barat sekitar 78% yang diangkut kapal, yang tinggal (manfaat) di daerah itu hanya 1%. Begitu pun dengan biaya pengiriman satu kontainer dari Surabaya sekitar Rp 15 juta tidak sebanding dengan jika besar barang yang sama dari Surabaya dikirim ke Singapura dengan biaya hanya Rp 2 juta.

Inflasi yang terjadi, justru jadi korban adalah rakyat kecil. Sekitar 40% transaksi antara produsen dengan buyer   (pembeli) justru lari ke tengkulak. Oleh sebab itu, menurut Pak Karwo, meski saat ini buyer di Maros misalnya, sudah melakukan bisnis online, namun harus juga mengetahui tingkat dan pergerakan harga yang ada.  

Masalah daya saing juga disinggung alumnus S-1 Unair Surabaya (1979) tersebut.  Daya saing provinsi di Indonesia menempatkan Jawa Timur di bawah DKI yang berada di peringkat I, disusul Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Bali, Banten, dan DIY pada ke-3 dan seterusnya.

Terjaga

Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu yang sebelum acara kuliah umum menjamu Pak Karwo di lantai 8 Gedung Rektorat, pada ujung diskusi memberi apresiasi atas kehadiran Gubernur Jawa Timur itu membawakan kuliah umumnya.

‘’Jika ada lima gubernur di Indonesia seperti Pak De Karwo, stabilitas ekonomi bangsa ini terjaga,’’ puji Dwia yang disambut tepuk tangan ratusan undangan yang hadir.

Menurut Dwia, Pak De Karwo adalah seorang gubernur berlatar belakang pendidikan hukum, namun bisa menata ekonomi daerahnya secara global dan pasti tidak ada penyelewengan hukumnya. Pada era otonomi daerah sekarang, banyak memunculkan ekonomi biaya tinggi. Biaya yang non-ekonomis tersebut membuat para investor enggan menanamkan modalnya. Akibatnya, banyak investor yang ‘’curhat’’ ke perguruan tinggi mencari solusinya.

Tantangan Gubernur Jawa Timur, kata Dwia, kini sudah direspons Unhas dengan menjalin kerja sama dengan Kadin Taiwan yang belum menemukan celah untuk akses menanamkan investasi dan terkendala dengan pemerintah daerah dan pemerintah pusat.

‘’Unhas akhirnya menjalin kerja sama riset dengan Taiwan dan gagasan yang ditawarkan Pak Karwo pun cukup menarik,’’ pungkas Dwia. (*).

Baca juga :