Penguatan Kerja Sama di Berbagai Bidang

16 Feb 2017 , Humas01 Akademik

Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu bersama foto (selfive) dengan Dubes Ri di Moskow , Usai membawakan Kuliah Umum Di Unhas, Kamis (16/2/2017). (foto:humas/yulia)

Dubes RI di Rusia 

Penguatan Kerja Sama di Berbagai Bidang

Meski baru sepuluh bulan bertugas sebagai Duta Besar di Republik Rusia dan Belarus, M.Wahid Supriyadi berjanji akan meningkatkan neraca perdagangan Indonesia-Federasi Rusia.

‘’Sekarang ini neraca ekspor pedagangan Indonesia-Rusia berkisar US$ 3 miliar lebih, diharapkan tiga tahun ke depan bisa mencapai US$ 5 miliar,’’ ujar Wahid Supriyadi dalam kuliah umumnya di depan dosen dan mahasiswa di Ruang Senat Unhas, Kamis (16/2).

Jika dipersentase, trend perdagangan kedua negara mengalami peningkatan. Pada tahun 2015 berkisar 17,1% dengan nilai sekitar  US $ 2,13 miliar, kini sudah mencapai 28%. Peluang peningkatan neraca perdagangan ini masih terbuka, karena banyak produk Indonesia yang bisa masuk ke negara tersebut, seperti halal food  dan kacang-kacangan., 

Program yang dilakukan untuk mencapai target itu antara lain dengan menciptakan kemitraan strategis dan penguatan kerja sama dalam berbagai bidang yang kini sedang berjalan dengan Rusia.

Mantan Duta Besar Uni Emirat Arab tersebut mengatakan, sekitar 20 juta penduduk muslim Rusia dapat menjadi pasar baru bagi Indonesia untuk mengekspor produk-produk halal ke negara itu. Misalnya, mie instan, kacang-kacangan, dan sebagainya.  Rusia sekarang tidak lagi identik dengan pada masa Uni Soviet di bawah pemerintahan Partai Komunis.

‘’Kini yang banyak kita temukan justru restoran dari berbagai negara, lambang negara yang ada di bendera  yang dikenal dulu, sudah susah ditemukan,’’ ujar Wahid Supriyadi dalam kuliah berjudul ‘’Perkembangan Hubungan Indonesia-Rusia ‘’ yang juga dihadiri Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu, Wakil Rektor IV Unhas Budu, sejumlah guru besar, dosen, dan mahasiswa Unhas.

Mantan Konjen Indonesia di Melbourne Australia tersebut mengatakan, pada acara Festival Indonesia di Moskow, Agustus 2016, mendapat perhatian yang ramai dari masyarakat Kota Moskow. Nasi goreng yang disediakan, ludes dalam dua jam, Begitu pun sate, habis dalam tiga jam. Mereka rela antre untuk menikmati makanan khas Indonesia setelah terlebih dahulu menikmati berbagai atraksi kesenian Indonesia yang ditampilkan.

Pria yang menyandang tiga predikat, diplomat, dosen, dan jurnalis ini, mengatakan, hubungan Indonesia dengan Rusia, termasuk ketika era Uni Soviet, berlangsung sangat baik. Pada era pemerintahan komunis, Indonesia banyak mendapat bantuan pesawat dan kapal selam dari Uni Soviet. Bahkan, pada masa konflik Pembebasan Irian Barat, Indonesia banyak memperoleh bantuan persenjataan dari negara beruang merah tersebut.

Dubes juga mengatakan, saat ini ada beberapa orang Unhas yang belajar di Rusia. Bahkan di Rusia ada Yayasan Makassar yang dipimpin oleh orang Indonesia yang pernah belajar di Uni Soviet dan segan kembali ke Indonesia. 

Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu mengatakan, merupakan sebuah kebanggaan bagi Unhas dikunjungi oleh Duta Besar RI di Moskow. Beberapa tahun lalu, Dubes Federasi Rusia di Jakarta pernah berkunjung dan membawakan kuliah umum di Unhas dan beberapa Dubes negara lainnya.

‘’Unhas selalu menginginkan para Duta Besar RI dan asing mengunjungi Unhas, karena dapat dijadikan ajang menjajagi kerja sama dengan negara tempat bertugas dan negara asal para Dubes,’’ kunci Dwia. (*).

Baca juga :