Pangdam VII Wirabuana Luncurkan Bukunya di Unhas

27 Feb 2016 ,

Agus SB mulai menulis sejak pertama kali menjadi tentara pangkat taruna di Timur-Timur sampai berpangkat letnan kolonel. Baginya menghadapi anak buah, dinamis masyarakat tidak ada dalam buku, sehingga setiap pengalamannya dia tuliskan di buku-buku kecil. Sayangnya ketika akan pindah penempatan kerja, dia membakar buku tersebut, “saya menyesal saat itu,” ucapnya.

 

Buah dari kegemaran menulis itu akhirnya tertuang dalam bentuk buku. Senin (22/2) di ruang senat Universitas Hasanuddin, bersama sejumlah tokoh pemerintahan dan akademisi menyaksikan peluncuran buku Deradikalisasi Nusantara dan Deradikalisasi Dunia Maya karya Agus Surya Bakti selaku Pangdam VII Wirabuana.

 

Ketika menyebut dirinya telah bersentuh dengan teroris dan korban teroris, tiba-tiba Ia menitihkan air mata, sambil mengatur nafas ia menyebutkan, “terorisme telah mengalirkan darah dan air mata, tokoh agama dan semua orang sepakat terorisme tidak dibenarkan,” ucapnya di depan para hadirin.

 

Mayjen Agus SB memutar slide demi slide mulai dari penyebab hingga implementasi dan tawaran penanggulangan deradikalisasi di nusantara. Kata dia penyebab terorisme muncul karena adanya radikalisasi. Akar munculnya radikalisme berpangkal pada ideologi tapi pemicunya multivariabel seperti keterbelakangan pendidikan, perubahan politik, kemiskinan, atau rendahnya peradaban budaya dan sosial seseorang.

Dari data The Indonesian Reserch Team 2012, Kementrian Luar Negeri, INSEP, dan Densus 88 menyebutkan bahwa profil pelaku terorisme berdasarkan tingkat pendidikan didominasi oleh SMA sebesar 63,6 persen, selebihnya universitas 16,4 persen, DO universitas 5,5 persen, siswa SMP 10,0 persen, dan SD 3,6 persen.

 

Saat ini pengguna internet di Indonesia didominasi oleh usia remaja. Data menunjukkan 85 persen setuju sosial media efektif menjadi tempat untuk berdakwah. Fenomena tersebut mendapat respon oleh Anshour bahwa internet menjadi media efektif yang dapat digunakan dalam melakukan kontra narasi dari propaganda kelompok radikal terorisme. Sehingga di Indonesia sendiri telah ada regulasi tentang penanganan situs bermuatan negatif, namun regulasi saja tidak cukup.

 

“Dunia Maya menembus tembok-tembok dan dinding-dinding kamar anak-anak kita, siapa yang tahu di bawah selimutnya mereka menonton video merakit peledak,” ujarnya.

 

Untuk mengatasi radikalisme tersebut, Mayjen Agus SB menawarkan konsep budaya nusantara. Indonesia memiliki kekuatan sosial dan budaya yang bisa menjadi dasar pemersatu untuk menumbuhkan nasionalisme dalam mengderadikalisasi nusantara. Hal tersebut bisa terwujud dengan cara meneguhkan kebajikan nusantara itu. Kebajikan nusantara itu seperti khazanah budaya Indonesia lahir sebagai hasil sentuhan tangan kreatif bangsa, kolektivitas masyarakat yang digambarkan dalam konsep gotong royong, budaya nusantara yang plural, keanekaragaman etnik Indonesia memiliki khazanah kebajikan yang diwariskan secara turun temurun dalam rangka membangun dunia yang berkeadaban, mengedepankan kembali kebajikan budaya bangsa sebagai gerakan menghentikan bentuk kekerasan melalui kerangka budaya, serta kearifan lokal yang tersebar di nusantara menyimpan nilai-nilai luhur sebagai ‘modal’ bagi pembangunan Indonesia yang berkeadaban.

Hal lain yang perlu mendapat perhatian ialah nilai-nilai luhur Indonesia yang terangkum seperti kearifan lokal, kesadaran sebagai basis, hidup berbangsa dan bernegara, kultur moderat dan bernegara, kultur moderat bangsa, pengamalan pancasila.

 

Untuk mengimplementasikan konsep budaya nusantara, suami dari artis Bella Saphira ini memaparkan bahwa hal-hal yang perlu dilakukan yaitu pertama pengawasan dengan cara propaganda paham dan ideologinya, kedua kontra propaganda dengan mengembangkan penguatan wawasan kebangsaan dan cinta NKRI, meluruskan paham kekerasan, membentengi generasi muda dari kekerasan, kebersamaan dalam pencegahan radikalisme, ketiga membangun jejaring komunitas damai.

 

Implementasi tersebut akan berjalan dengan adanya peran masyarakat seperti mendorong gerakan cerdas media (media literary) menjadi sebuah keniscahayaan di tengah semakin gencarnya tebaran propaganda terorime di media online dan mendorong pencegahan semesta di dunia maya melalui pemberdayaan peran keluarga, tokoh agama, lembaga pendidikan, dan komunitas penggiat dunia maya.

 

Ketiga penanggap Dr.H.Adi Suryadi,MA Culla dan Prof.Dr.Arfin Hamid, SH.,MH, selaku dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unhas, serta Muslimin Pemimpin Redaksi Harian Fajar sepakat mengatakan bahwa kedua buku ini layak untuk dibaca karena penulisnya merupakan pelaku sejarah yang artinya mengalami lansung semua yang ditulisnya serta menggunakan data-data valid untuk menjelaskan semua pengalamannya.

Peluncuran buku ini sempat pula dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan Syahrul Yasin Limpo (SYL). Dalam testimoninya, SYL mengapresiasi Mayjen Agus SB sebagai tentara yang secara aktif menerbitkan karya dalam bentuk buku, “saya apresiasi karena tentara jarang terlihat “cerdas”,” ucapan SYL mengundang tawa orang-orang di ruangan. “Biasanya tentara terlihat tegas, pantang menyerah, tapi kalau ada yang melahirkan buku, berarti kalah profesor. Secerdas-cerdasnya orang kalau belum ada bukunya, kecerdasannya di bawah  cumlaude,” lanjutnya memuji.

 

SYL menanggapai isi buku tersebut bahwa era globalisasi menjadikan gadget sebagai guru tanpa filter. Akibatnya ancaman nasionalisme tergerus. Maka dari itu, buku karya Mayjen Agus SB layak dibaca oleh akademisi dan anak-anak muda (RIA-HUMAS).

Read also :