Ocky Karna Radjasa: ''Warning'' Buat Guru Besar

8 May 2016 , humas01 Akademik

Prof.Ocky Karna Radjasa, M.Sc., Ph.D., Direktur Riset dan Pengabdian Kemristekdikti.

Papapan Direktur Riset dan Pengabdian Kementerian Ristekdikti Prof.Ocky Karna Radjasa, M.Sc, Ph.D, rasanya perlu mendapat perhatian serius para dosen, khususnya yang menjabat guru besar. Berkaitan dengan penulisan jurnal internasional, pada tahun 2016 ini diharapkan mencapai 6.229 jurnal internasional. Lima ribu dosen yang menjabat guru besar (professor) saat ini diharapkan dapat menghasilkan jurnal-jurnal ilmiah yang terakreditasi internasional.

‘’Pada tahun 2016 ini hanya 5% guru besar yang menghasilkan jurnal internasional. Kebanyakan GBHN (guru besar hanya nama),’’ kata lulusan S-1 Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto 1989 yang pernah meraih penghargaan Biovision The World Life Science 2013 tersebut.

Guru Besar Kelautan Undip Semarang yang meraih magister di University of McMaster Hamilton Kanada 1994 tersebut menyebutkan, pada tahun 2018 akan ada evaluasi bagi para guru besar yang tidak menghasilkan jurnal ilmiah internasional yang berkonsekuensi terhadap tunjangan seorang guru besar.

‘’Jika tidak menghasilkan karya jurnal ilmiah internasional, maka tunjangannya  sama dengan dosen dengan jabatan lektor kepala,’’ kata lulusan doktor Aquatic Biosciences Tokyo Daigaku 2001, sambil menambahkan Undip Semarang sekarang menyiapkan dana Rp 41 miliar bagi pengembangan 134 guru besarnya.

Dana

Pria kelahiran Purwokerto 29 Oktober 1965 menyebutkan, saat ini Kemenristek Dikti mengelola dana pagu APBN 2016 sebesar Rp 40,63 triliun. Dana ini diperuntukkan bagi kegiatan pendidikan sebesar Ro 39,66 triliun dan untuk kepentingan layanan umum Rp 0,97 triliun.

Untuk pendidikan dialokasikan beasiswa sebesar Rp 3,7 triliun bagi 352.000 mahasiswa. Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) Rp 4,5 triliun untuk  118 PTN, beasiswa dosen (11.930 orang) Rp 0,9 triliun, Sarana dan prasarana (Sarpras) untuk 36 PT sebesar Rp 1,8 triliun, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan tunjangan dosen/guru besar/pegawai  Rp 14,7 triliun, PHLN Rp 2,1 triliun, dan K/L sebesar Rp 1,8 triliun.

Dana untuk layanan sebesar Rp 0,97 triliun diperuntukkan bagi pembangunan 9 taman sains (science park, termasuk satu di Breeding Center Unhas, Maiwa Enrekang), 900 karya siswa, 19 prototipe laik industri, 20 sentra Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), 35 produk inovasi, dan 235 paket hasil penelitian.

Ocky juga menjelaskan performances perguruan tinggi negeri/swasta yang masuk kategori mandiri, utama, madya, dan binaan. Pada tahun 2007-2009 hasil pemetaan membuktikan terdapat 10 PTN kategori Mandiri, 17 PTN dan 5 PTS kategori Utama, 27 PTN dan 44 PTS Madya, dan 30 PTN dan 261 PTS Binaan. Jumlah ini naik pada periode pemetaan tahun 2010-2012, yakni 12 PTN dan 2 PTS Mandiri, 21 PTN dan 15 PTS Utama, 24 PTN dan 61 PTS Madya, dan 39 PTN dan 731 PTS kategori binaan.

Penilaian itu berdasarkan pada kriteria sumber daya manusia penelitian 30%, manajemen penelitian 15%, out put (publikasi ilmiah) 50%, Revenew generating 5%.

‘’Dari sekitar 4.600 perguruan tinggi negeri dan swasta hanya beberapa saja yang meraih bintang 4, termasuk Universitas Hasanuddin satu-satunya di luar Jawa dan 1 perguruan tinggi swasta, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM),’’ sebut Ocky Karna Radjasa yang disambut tepuk tangan peserta simposium nasional yang bertahan.

Khusus mengenai induk riset nasional (IRN) berfokus pada 10 bidang dengan konsiderans Program Nawacita Presiden Joko Widodo dan Millenium Development Goals (MDGs). Dana untuk riset ini diperuntukkan bagi 75.000 doktor dari 220.000 dosen. Pada tahun ini, kata Ocky, disediakan 1.000 beasiswa ke luar negeri yang dalam dua tahun terakhir hanya terpenuhi 500 orang. Disiapkan kuota 500 yang terserap hanya 250 orang, padahal duitnya ada.

 

Baca juga :