Obati Kanker, RS Unhas Gunakan Terapi Nuklir

18 Jun 2016 , humas01 Press Release

Dokter Suherman Hadi Saputra, Sp.Onk.Rad dengan latar belakang ''brachy teraphy'' , alat terapi kanker menggunakan radio aktif (nuklir) di RS Unhas. (Foto:mda)

Teknologi nuklir tidak saja dapat digunakan untuk memproduksi mesin-mesin perang, seperti senjata nuklir, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pengobatan manusia. Melengkapi posisinya sebagai pusat kanker di Indonesia, Rumah Sakit Universitas Hasanuddin (RS Unhas) memperkenalkan alat ‘’Brachy Therapy (BT) buatan Jerman guna mengobati penyakit kanker dengan memanfaatkan radiasi nuklir. Radiasi itu diinjeksi ke dalam jaringan kanker dengan dosis yang disesuaikan dengan besar kankernya.

‘’Kekuataannya lebih besar. Sistem kerjanya bersumber dari radiasi yang ditembakkan ke sel-sel kanker menggunakan radio aktif iridium dengan teknik tiga dimensi,’’ kata dr.Suherman Hadi Saputra, Sp.Onk.Rad., salah seorang dokter spesialis onkologi radiologi RS Unhas, didampingi Dirut RS Unhas Dr.dr.Andi Fachruddin Benyamin, Sp.PD, KHOM, ketika ditemui di RS Unhas, Selasa (14/6).

Penggunaan BT ini termasuk langka di Indonesia. Tumor yang ada di dalam tubuh manusia ditembakkan radio aktif iridium dengan kekuatan 10 Linac. Hingga sekarang, Linac itu digunakan menangani kanker serviks. Di Sulawesi Selatan, berdasarkan data yang ada, kebanyakan terdapat pasien dengan kepala leher. Kanker ini disebabkan virus yang dirangsang oleh pola makan. Selain itu, juga ada kanker payudara, kanker paru, dan kanker usus.

Menurut Suherman, BT paling cocok untuk kanker serviks dan cocok untuk golongan sarcoma, yakni tumor-tumor yang terjadi pada jaringan ikat (otot). BT ini diindikasikan bagi pasien yang membutuhkan pengobatan dengan dosis tinggi (high dose) dan lebih simple. Di Indonesia yang sudah menggunakan alat ini selain RS Unhas, juga RS Sutomo Surabaya, dan Siloam Jakarta.

Keunggulan BT, kata Suherman, adalah sebagai alat radio diagnostic dan CT scan dengan kecepatan tinggi. Scan ini sangat berguna bagi pasien yang gelisah dan pasien yang cedera kepala, misalnya akibat tabrakan. Dengan menggunakan dua tabung X-ray menempatkan alat ini tercepat di dunia dalam melakukan CT scan terhadap objek kanker. Ini didukung oleh robotic guidance injector (penginjeksi robot pemandu) yang menambahkan fungsi alat ini dengan presisi dan akurasi yang lebih tepat.

Alat lain yang digunakan dalam mengobati kanker di RS Unhas  adalah alat radio terapi dengan menggunakan Linier Accelerator (Linac). Alat ini terbilang baru, buatan Amerika yang digunakan sejak tahun 2013 di RS Unhas.

‘’Ada jenis-jenis kanker yang sangat peka terhadap sinar, tetapi ada juga kanker yang tidak mempan disinari. Misalnya leukemia, kanker kelenjar getah bening, kanker paru,’’ sebut Suherman yang mulai bergabung di RS Unhas sejak tahun 2012.

Dengan menggunakan alat Linac tersebut bisa memanfaatkan intencity modulated radiotherapy (IMR) di atas tiga dimensi. Presisinya lebih akurat dibandingkan dengan alat yang sama, Linac dua dimensi. Linac tiga dimensi ini, kata dr.Suherman Hadi Saputra, Sp.Onk.Rad., lebih safety dan terukur.

'’Safety, karena semuanya terukur dengan memanfaatkan komputer. Di Kawasan Timur Indonesia (KTI) baru Rumah Sakit Unhas yang menggunakan alat ini,’’ ujar lulusan FK Universitas Brawijaya (UB) 2006 tersebut.

Penggunaan alat ini jauh lebih efektif untuk menangani tumor yang susah. Misalnya, ada kanker yang tersembunyi di belakang rongga hidung, alat ini dapat ‘melaksanakan fungsinya’ mampu mengobati jaringan kanker tersebut dengan tetap ‘menjaga’ jaringan yang ada tetap sehat. Dengan teknologi ini jaringan sehat terhindar dari terkena radiasi.

‘’Tetapi tergantung juga besar kankernya. Banyak pasien dalam setahun bisa mencapai 600-700 orang yang dilayani,’’ kata Suherman, dokter spesialis onkologi radiologi kelahiran Surabaya 23 Juni 1980 ini.

Suherman mengatakan, kebanyakan pasien kanker kita datang justru pada stadium akhir, sehingga terjadi delay treatment (pengobatan yang tertunda), sehingga tumornya menjadi sangat besar. Paling efektif jika pasien ditangani ketika mengalami stadium 1-2.

Dokter spesialis lulusan Universitas Indonesia (UI) 2011 ini mengisahkan, ada seorang pilot pesawat Indonesia berkebangsaan Amerika. Dia mengalami gangguan kanker kecil di hidung sambil membawa pesawat. Pada tahun 2014 dia melapor ke Rumah Sakit Unhas. Sambil diperiksa, melalui telepon dia selalu berkonsultasi dengan dokternya di Amerika. Sang dokter menanyakan, alat apa yang digunakan di Indonesia. Ketika mengetahui bahwa yang digunakan itu alat dan tekonologi buat Amerika, sang dokter pun yakin pilot itu ditangani para dokter Unhas.(mda)

 

Baca juga :