M.Zulficar Mochtar: 3 Miliar Penduduk Bergantung pada ''Seafood''

8 May 2016 , humas01 Penelitian

Dekan FIKP Jamaluddin Jompa menyerahkan cinderamata kepada M.Zulficar Mochtar pada acara Simposium Nasional Kelutan dan Perikanan Unhas, Sabtu (7/5/2016). (Foto:mda).

Memilih judul presentasi ‘’Membangun Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia Melalui Pengembangan Iptek dan Kelautan Perikanan,’’ lulusan Unhas 1996 ini mengatakan, urusan laut menyimpan masalah yang masif dan kompleks. Di laut juga terkait masalah energi, bagaimana memenuhi kebutuhan masyarakat yang tinggal di pulau-pulau terluar akan kebutuhan energi.  

Persoalan reklamasi yang saat ini marak diberitakan media, juga disinggung Vicar, panggilan akrab putra H.Mochtar Husain ini. Terdapat sedikitnya 50 kasus reklamasi di Indonesia dan jika ditotal mencapai 100 kasus.

‘’Reklamasi sebenarnya bukan barang haram, tetapi bagaimana bisa bermanfaat, adil, dan urgen,’’ kata Vicar yang mengaku baru 1,5 bulan menjadi pegawai negeri sipil (PNS) di Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Lulusan SD Mangkura 1984 ini mengatakan, penduduk bumi saat ini 7 miliar jiwa. Pada tahun 2050, dipredikasi penduduk dunia akan membengkak menjadi 9 miliar jiwa. Tiga miliar jiwa dari penduduk itu, kelak akan bergantung pada makanan laut (seafood) sebagai sumber utama protein.

Indonesia juga merupakan negara sebagai pusat bencana (ring of fire) yang umumnya terjadi di wilayah pesisir. Di tempat itu pula hidup   7,8 juta masyarakat nelayan yang masih hidup di bawah garis kemiskinan. Oleh sebab itu, di masa kepemimpinan Susi Pudjiastuti diupayakan peningkatan taraf hidup mereka. Salah satu caranya adalah menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan yang mengambil sumber daya ikan Indonesia.

‘’Hingga saat ini sudah 176 kapal pencuri ikan yang ditenggelamkan,’’ kata alumnus SMA Negeri 1 Makassar 1990 tersebut.

Namun yang sangat prestisius adalah keberhasilan Indonesia menangkap Fish Vessel  (FV) Viking pada tanggal 16 Maret 2016, kapal pencuri ikan yang diburu 13 negara dan berbendera 20 negara. Puluhan tahun kapal dengan jaring sepanjang 399 km itu diburu oleh sejumlah negara.

Laut, kata Vicar, juga menjadi penampung sampah. Indonesia termasuk negara kedua sebagai pemasok sampah plastik terbesar di dunia setelah China. Pada tahun 2010 sesuai data globalpost (diunduh 7 Mei 2016) China memproduksi sampah plastic 8.819.717 ton, Indonesia 3.216.856 ton, Filipina 1.883.619 ton, Vietnam 1.833.819 ton, dan India 599.819 ton, total 15.511.404 ton. Pada tahun 2025, kelima negara ini diprediksi akan memasok plastik  (jika tidak ada upaya pencegahan) masing-masing India 17.814.717 ton, Indonesia 7.415.202 ton, Filipina 5.088.394 ton, Vietnam 4.172.828 ton, dan India 2.881.294 ton. Total 31.770.794 ton.

Permasalahan lain yang dihadapi bidang kelautan dan perikanan menurut lulusan SMP Negeri 6 Makassar tahun 1987 ini, adalah sumber daya manusia. Komposisi usia produktif dan kualitas angkatan kerja Indonesia (2013) terbesar (70,40%) kualifikasi pendidikan dasar, 22,40% pendidikan menengah, dan 7,20% pendidikan tinggi. Di Malaysia pendidikan tinggi 20,30%, menengah 56,30%, dan pendidikan dasar 24,30%.

‘’Perbandingan peneliti dengan angkatan kerja di Indonesia 7:10.000,’’ kunci Magister lulusan Cardiff University United Kingdom. (*).

 

Baca juga :