Micro Finance Tingkatkan Bobot Internasional Unhas

10 Feb 2017 , Humas01 Akademik

Pembukaan Institute Center of Micro Finance di Universitas Hasanuddin  bekerja sama dengan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) kelak akan menaikkan bobot Unhas dalam akreditasi internasional. Pasalnya, melalui kerja sama dengan BRI tersebut akan melibatkan beberapa perguruan tinggi ternama dari luar negeri. Sejumlah guru besar dari universitas ternama luar negeri itu menyampaikan kuliah umum di Unhas.

‘’Kegiatan seperti ini akan memberikan bobot bagi Unhas dalam melaksanakan kegiatan internasionalnya,’’ kata Rektor Unhas Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. ketika menerima kunjungan Direktur Utama (Dirut) PT Bank BRI Asmawi Syam di ruang kerjanya di Gedung Rektorat Unhas Kampus Tamalanrea, Jumat (10/2).

Dwia mengatakan, para mahasiswa luar negeri yang akan belajar di Unhas dapat diregistrasi sebagai peserta akademik. Melalui kerja sama dengan Bank BRI akan banyak dapat dilakukan, apalagi setelah berdiri fasilitas yang kelak menjadi rumah kreatif.

Sebagaimana dijelaskan Dekan Fakultas Ekonomi Unhas Prof.Dr. Gagaring Pagalung, M.Si.Ak, Maret 2017 seorang guru besar dari Yale University, AS, bersama 26 orang mahasiswa Magister of Business  Admnistration (MBA)-nya berkunjung ke Unhas. Guru besar itu akan membawakan kuliah umum di depan mahasiswa Unhas.

Dirut Bank BRI Asmawi Syam mengatakan, para mahasiswa dari luar negeri yang melaksanakan studi banding atas kerja sama dengan BRI akan memperoleh sertifikasi dari perguruan tinggi. Selama ini BRI sudah melakukan itu bekerja sama dengan Harvard University, AS, yang juga mengeluarkan sertifikasinya.

‘’Nanti kalau ke Indonesia, tinggal Unhas yang mengeluarkan sertifikatnya,’’ ujar Asmawi Syam yang juga anggota Majelis Wali Amanah (MWA) Unhas tersebut.

Asmawi menjelaskan, pihak Harvard University kerap mengambil data suatu studi kasus di Indonesia baru dianalisis secara akademik di kampusnya. Data tersebut sebagai pelengkap informasi yang mereka peroleh di Amerika. Jika program ini sudah berjalan, kata Asmawi, dapat dipasang tiga logo, yakni BRI, Harvard University, dan Unhas.

‘’Jadi kerja sama ini bersifat simbiosis mutualis (saling menguntungkan),’’ ujar Asmawi Syam.

Dia juga menyinggung mengenai rumah kreatif yang akan dibangun Unhas bersama BRI hendaknya dapat menjadi etalase hasil produk Unhas yang diharapkan tidak saja bersaing lokal, tetapi dapat diekspor dengan menggunakan e-commerce (perdagangan elektronik).

‘’Untuk persaingan kita harus persiapan ‘packaging’ (kemasan), bagaimana membangun proses produksi, storage (penyimpanan), re-stock (cadangan), standarisasi mutu, Ini semua harus masuk ke dalam materi perkuliahan institute of micro finance, Jika ini, terwujud, produk dapat diekspor dan menjadi kelas dunia,‘’ujar Asmawi Syam.

Mengenai program Institute of Micro Finance yang akan dibuka di Unhas, menurut Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas 1970-an itu, bentuknya kelas kecil. Misalnya, 20 orang dari umum dan 5 orang dari BRI. Yang dari Bank BRI diusahakan memperoleh beasiswa melanjutkan pendidikan S-2 di Unhas.

‘’Berkaitan dengan rencana pendirian lembaga pendidikan ini, pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga siap membantu,’’ kata Asmawi.

Lembaga Pendidikan Micro Finance tersebut, hemat Asmawi, tidak saja berbicara mengenai masalah keuangan saja, tetapi juga berkaitan dengan masalah hokum. Misalnya tentang hak paten yang saat ini masih merupakan kelemahan micro finance. Disiplin lain adalah Bidang Teknik, Kedokteran, bahkan bisa lintas disiplin. 

Menurut Asmawi Syam, micro finance ini kelak akan membidik kelompok  masyarakat produktif berdasarkan usia, tetapi tidak produktif. Kelompok inilah yang sering menjadi penganggur. Pada awalnya mereka ini diberikan bantuan gratis yang sebenarnya sudah pernah dilakukan BRI pada tahun 1980-an. Pada tahap berikutnya, mereka dinaikkan kelasnya diberikan kredit tanpa jaminan dan tanpa bunga. Setelah usaha mereka mengalami perkembangan dapat memperoleh kredit normal dan memiliki simpanan di bank. (*).

Baca juga :