Kepala BNPT: Kampus Harus Jadi Benteng Cegah Radikalisme

31 Oct 2016 , Humas01 Press Release

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Suhardi Alius, M.H. mengatakan, enam bulan lalu ada survei yang dilakukan Harian Kompas tentang radikalisme di Jakarta. Dari 500 responden, ternyata 22% guru dan 21% murid menganggap bahwa Pancasila dianggap tidak relevan lagi. Intinya, radikalisme merupakan tantangan  yang begitu kerasnya bagi nasionalisme kita ke depan.

‘’Kita menghadapi tantangan nasional, regional, dan global. Oleh sebab itu, sejak dini generasi muda harus mampu membentengi diri agar tidak terpapar unsur radikalisme, terutama  kalangan mahasiswa sangat berpotensi menjadi sasaran,’’ kata jenderal polisi tiga bintang itu ketika membawakan kuliah umum berjudul ‘’Resonansi Kebangsaan dan Pencegahan Radikalisme,’’ di Aula Fakultas Kehutanan Unhas, Sabtu (29/10/2016) pagi.

Didampingi Rektor Unhas Prof.Dr.Dwia Aries Tina Pulubuhu, M.A. dan Dekan Fakultas Kehutanan Unhas Prof.Dr.Ir.Yusran Yusuf, mantan Kapolda Jawa Barat tersebut menekankan, bentuk-bentuk ancaman nasional muncul  dapat bersumber dari masalah  kemiskinan, konflik horisontal/kedaerahan, isu perbatasan, pengelolaan sumber daya alam/isu lingkungan, isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), toleransi, dan lain-lain.

Ancaman regional dapat berwujud dominasi negara-negara tertentu, dan lain-lain, isu Laut China Selatan, dan Masyarakat Ekonomi ASEAN. Sementara ancaman global mencakup, perebutan sumber daya energi dan pangan, perubahan iklim, perang asimetris, radikalisme dan persaingan global, dan resesi ekonomi.

Globalisasi informasi, kata Jenderal kelahiran 10 Mei 1962 ini, sudah mengikis dan mereduksi nilai kebangsaan dan sudah lepas, sehingga perlu dikembalikan, sebagaimana 17 tahun sebelum kemerdekaan, yakni saat Sumpah Pemuda. Masyarakat kita yang ramah dan bergotong royong kini sudah terkikis.

Spektrum ancaman yang dihadapi, selain global, regional, dan nasional, juga termasuk radikalisme. Tidak ada ruang lagi yang kosong dan tidak bisa dimasuki oleh ancaman ini. Bahkan tanpa mengetuk pintu. Tidak ada lagi kesantunan dan nilai-nilai yang sudah lama kita anut. Kalau dulu, murid mencium tangan gurunya, kini malah gurunya ditantang berkelahi.

‘’Ini adalah fenomena dari radikalisme,’’ kata mantan Sekretaris Utama Lemhanas tersebut, kemudian menambahkan, kalau kita berbicara mengenai kebangsaan harus melibatkan hati, karena tidak pernah berkata bohong. Hati merupakan ukuran buat kita. Radikalisme itu sangat rentan  menimpa rekan-rekan kita yang belum berkemampuan. Ada yang mengajak ‘masuk surga, langsung saja’’. Anak muda yang tidak memiliki latar belakang kemampuan, diprovokasi untuk menjadi ;mahar’ (bom bunuh diri). Dia tidak berpikir berdasarkan rasionalitas lagi, karena sudah terprovokasi.

Suhardi Alius mengatakan, data terakhir pengguna internet di Indonesia 135 juta orang, separuh  dari jumlah penduduk. Sekitar 64,7% di antaranya adalah SMU ke atas. Melalui gadget informasi apa yang tidak bisa diakses, mulai radikalisme, pornografi, dan narkoba. Informasi mengenai masalah ini dalam hitungan detik sudah mengglobal.

‘’Perubahan yang demikian cepat itu, dampaknya juga cepat,’’kata mantan wakil Kapolda Metro Jaya tersebut.

Corong Komunitas

Rektor Unhas Dwia Aries Tina Pulubuhu ketika membuka kuliah umum Kepala BNPT tersebut mengatakan, saat ini Unhas memiliki lebih kurang 30 ribu mahasiswa yang sebagian besar berasal dari wilayah Indonesia Timur. Sosialisasi mengenai radikalisme yang dibawakan Kepala BNPT, dinilai Dwia sangat strategis agar para mahasiswa menjadi corong bagi komunitas dan kerabatnya dalam membantu mencegah radikalisme.

‘’Upaya yang dilakukan Unhas selama ini antara lain memantau kalau ada penyusupan gerakan radikalisme di kampus,’’ ungkap Dwia.

Sosialisasi ini juga merupakan pembinaan karakter bagi mahasiswa baru, karakter bhineka tunggal ika dan lain-lain. Cara ini penting bagi kita, karena kampus berisi anak muda yang paling ampuh dan rentan terpengaruh gerakan radikalisme.

‘’Paling tidak, dengan cara ini mahasiswa bisa memunculkan kepedulian guna me njaga komunitas masing-masing dari radikalisme,’’ ujar Dwia, dalam kuliah umum yang dipandu Dekan Fakultas Kehuatanan Unhas Prof.Dr.Ir.Yusran Yusuf dan diikuti para dosen  dan ratusan mahasiswa Fakultas Kehutanan. (*).. 

 

     .   

Baca juga :