KATA DIA, Penelitian Mahasiswa Peduli Difabel

21 Jun 2016 , humas01 Penelitian

Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan Pomanto bergambar bersama dengan peneliti dan relawan difabel pada Hari Pendidikan Nasional 2016. (Foto:istimewa).

Tiga orang mahasiswa Unhas, masing-masing Dirga Utama Mahardika (Ilmu Pemerintahan), Herlina Sukman (Administrasi Negara), dan Ervan Togatorop (Teknologi Pertanian), mengangkat satu penelitian kreativitas mahasiswa (PKM) bertajuk ‘’KATA DIA’’ (Kelas Terbuka Dunia Isyarat). Penelitian ini diarahkan bagi pemberdayaan penderita tuna rungu dalam hal pengembangan bahasa isyarat bagi mereka yang termasuk difabel tersebut.

Mereka mempresentasikan hasil penelitian yang bergenre pengabdian masyarakat ini di depan Prof.Dr.Rimbawan, M.Sc., salah seorang tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kementerian Riset Teknologi Pendidikan Tinggi (Diset Dikti) bersama 50 kelompok mahasiswa Unhas lainnya di Kantor Lembaga Kajian Pengembangan Pendidikan (LKPP)  Unhas, 21 Juni 2016. Juga ikut menyampaikan presentasi hasil penelitian dari Politeknik Negeri Ujungpandang (PN UP), Universitas Bosowa (Unibos), dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Tamalanrea. Masih ditunggu peserta PKM lain dari perguruan tinggi di Palopo.

Dalam catatan mereka, di Sulawesi Selatan terdapat 25.530 orang penderita tuna rungu yang tersebar di beberapa daerah kabupaten dan kota. Ironisnya, hanya terdapat empat orang yang menjadi interpreter (penerjemah) bahasa isyarat bagi pemandu bahasa mereka. Tiga orang di antara mereka itu sudah berkeluarga (dua perempuan dan seorang laki-laki) dan kini tinggal seorang perempuan bernama – biasa dipanggil – Ciki, yang aktif membantu para penderita tuna rungu tersebut.

Untuk memperoleh seorang interpreter ternyata tidak tersedia lembaga pendidikan di daerah ini. Mereka lahir secara alamiah dan autodidak dengan memahami pembicaraan para penderita antara 7 sampai 12 bulan.

Melalui KATA DIA, para mahasiswa Unhas ini ingin mengembangkan kemampuan hubungan sosial masyarakat dengan para penderita tuna rungu. Guna menemukan dan mencapai sasaran akhir penelitian, mereka menggunakan tiga tahap.

Tahap pertama kelas bergerak dengan cara memberikan edukasi kepada massyarakat dengan memberikan keterampilan dalam berbahasa isyarat kepada masyarakat.

Tahap kedua, kelas bicara, yakni dengan sasara penderita tuna rungu melalui pemberian pelatihan kepada mereka untuk berekspresi dan pemberdayaan masyarakat.

‘’Sekitar 107 relawan dari berbagai universitas di Makassar dilibatkan dalam kegiatan ini,’’ kata Dirga yang menjadi juru bicara kelompok mereka ketika presentasi di depan tim juri.

Dalam kelas bicara ini dilaksanakan di beberapa tempat dengan melibatkan penderita tuna rungu dan interpreter. Hasilnya, para penderita tuna rungu ini sempat tampil dalam Makassar International Writer Festival (MIWF) yang dilaksanakan di Makassar beberapa waktu yang lalu. Persembahan mereka dalam bentuk lakon pentas itu mendapat apresiasi dari peserta MIWF.

Tahap ketiga, kelas kegiatan sosial yang dimaksudkan untuk menampung aspirasi masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan sosial yang dihadapi penderita tuna rungu. Berkaitan dengan kegiagan sosial ini, pada peringatan Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2016, para peneliti ini turun ke lapangan mengampanyekan ‘’gerakan anti intoleransi dan diskriminasi terhadap disabilitas’’.

Mereka berharap melalui penelitiannya tercipta suatu kelompok pemerhati disabilitas berupa organisasi atau komunitas. Meminimalisasi perilaku diskriminasi dan intoleransi di tengah masyarakat, dan menjadi  ‘’roll model’’ (model metode) dalam pemberdayaan masyarakat, dan bermanfaat bagi disabilitas.

Sasaran akhirnya adalah munculnya konsul kesehatan, adanya ibu difabel, lahirnya donatur, dan terbentuknya website bagi komunitas difabel ini.

Prof.Dr.Rimbawan, M.Sc. setelah mengikuti presentasi mereka mengakui, peneliti dengan penuh semangat menyampikan hasil temuannya, namun masih perlu dilengkapi dengan berbagai data, seperti pernyataan terekam dari mitra di dalam penelitian ini, seperti dari Wali Kota Makassar yang ikut meneken spanduk besar kampanye anti intoleransi dan diskriminasi terhadap difabel.

‘’Dampak dan gaungnya terasa, hanya saja penulisan laporannya belum mengikuti format laporan yang ada, yang maksimal 10 lembar,’’ Rimbawan menyarankan.

Kegiatan Monev PKM di Unhas berlangsung tiga hari, dimulai Senin (20/6). Sebanyak 51 proposal PKM dari Unhas ikut dalam lomba ini, masing-masing terdiri atas PKM KC (Karsa Cipta 11 proposal, PKM Kewirausahaan 3, PKM Penelitian Eksakta 32, PKM Pengabdian Masyarakat 2, PKM Penelitian Sosial Humaniora 2 naskah,

Hasil penelitian kreativitas mahasiswa yang lolos dari Monev ini akan mengikuti Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) di IPB pada tanggal 7 hingga 12 Agustus 2016. (mda).

 

 

Baca juga :