Ali Suman: Indonesia Jadi Tempat Buangan Polusi

8 May 2016 , oleh humas01

Ali Suman (Foto:mda)

Wakil Ketua Komisi Nasional Pengkajian Stok Sumberdaya Ikan Laut, Prof.Dr. Ali Suman dalam makalahnya bertajuk ‘’Membangun Poros Maritim dalam Perspektif Pengelolaan Sumberdaya Perikanan’’ memberikan ilustrasi dengan menayangkan Candi Borobudur, tempat terdapat pada 750-825 M. terpahat sepuluh kapal bercadik dinasti Sailendra yang manguasai teknologi  maritim (Sriwijaya).

Pada tahun 1609; Publikasi Mare Liberum (Hugo Grotius), laut bebas dari kedaulatan negara. Pada tahun 1709 VOC menganut Mare Clausum laut tertutup untuk monopoli perdagangan. Tahun 1939, Belanda mengeluarkan Staatblad No.442 laut teritorial 3 mil dari pantai, laut sebagai pemisah.

‘’Kolonial Belanda tidak memiliki konsep politik dan ideologi penyatuan laut dan daratan. Pada tahun 1957, muncul Deklarasi Juanda penyatuan laut dan daratan,’’ kata Ali Suman.

Indonesia sejak lama sudah memosisikan diri sebagai jalur laut transportasi minyak, namun masih pasif. Masih banyak potesi yang belum termanfaatkan dan teridentifikasi, misalnya dalam bidang ekonomi kelautan dan kemaritiman (perikanan, energi, dan mineral, pelayaran, dan sebagainya).

Kekurangan kita, kata Ali Suman, aset sumberdaya kelautan kita akan dijarah masyarakat dunia. Posisi geografis akan dimanfaatkan negara lain sebagai jalur perhubungan. Indonesia akan menjadi negara ‘’penonton’’ penjaga lalu lintas tanpa mendapat manfaat. Ujung-ujungnya akan menjadi tempat ‘’ buangan’’ polusi yang ditimbulkan dari berbagai kegiatan tersebut.  

 

Read also :